Bagaimana Membuat Suara Alam Terdengar dalam Pengadilan Kebijakan?

Klikhijau.com - Sama seperti manusia, tumbuhan dan hewan juga memiliki hak asasi. Hak dasar yang melekat pada tumbuhan dan hewan sesuai kodratnya. Seperti hak untuk hidup, hak untuk bereproduksi, hak...

Bagaimana Membuat Suara Alam Terdengar dalam Pengadilan Kebijakan?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sama seperti manusia, tumbuhan dan hewan juga memiliki hak asasi. Hak dasar yang melekat pada tumbuhan dan hewan sesuai kodratnya. Seperti hak untuk hidup, hak untuk bereproduksi, hak untuk berekspresi, hingga hak untuk membela diri.

Hal-hal seperti ini menjadi sensibilitas di luar manusia yang tak disadari, karena dianggap tidak memiliki status moral. Seperti hak harimau untuk mengaum; hak mawar untuk mekar; hak sungai untuk mengalir; hak batu untuk tetap utuh.

Mari kita ambil satu contoh hak bagi pohon untuk tidak ditebang, dapatkah pohon mempertahankan haknya? Mengapa pula pohon mesti repot-repot harus membela diri?

Secara individu aksi tersebut dilakukan oleh Christoper D. Stone, seorang advokat untuk lingkungan yangย  menemukan langkah bagaimana cara membela pohon. Usahanya bermula ketika ia menentang pembabatan hutan yang digunakan oleh suatu golongan untuk pembangunan resort.

Ia tidak setuju jika pohon-pohon di hutan tersebut ditebang. Ia berpikir universal tidak hanya dari segi pohon, tapi juga bagaimana agar suara alam terdengar dalam pengadilan. Baginya, alam dan benda-benda alam seharusnya memiliki haknya sendiri. Stone menjangkau masalah-masalah yang secara moral dan legal menyusahkan.

[irp]

Akhirnya Stone mendapatkan ide menulis sebuah buku berjudul Should Trees Have Standing: Law, Morality, and The Environment yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1974.

Buku ini berkembang di kalangan pergerakan lingkungan. Isu perdebatannya hingga Mahkamah Agung Amerika Serikat dan dijadikan bahan pertimbangan serius bagi para pembuat kebijakan.

Stone memberikan kontribusi yang orisinal bagi gerakan hukum lingkungan. Buku ini secara sederhana mempertanyakan: apakah pohon bisa sampai ke pengadilan untuk mempertahankan hak-haknya dan dengan lantang berbicara, โ€œsaya tidak mau ditebang!โ€?

Terjadilah diskusi panjang terkait pengadilan untuk makhluk non-manusia. Diskusi ini berlansung alot dan menemukan titik temu pohon bisa membela diri lewat โ€œpengampunyaโ€ yakni Stone sendiriโ€”di India aksi bela pohon juga dilakukan oleh Gaura Devi tahun 70-an dalam Chipco Movement atau gerakan memeluk pohon.

Keberanian Stone menginspirasi penulis-penulis sejenis untuk menjadi mulut bagi para makhluk non-manusia. Seperti Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring (Musim Bunga yang Bisu), Peter Singer dalam bukunya Animal Liberation, Roderick Frazier Nash dalam buku The Rights of Nature, Aldo Leopold dalam buku A Sand County Almanac, Gary Francione dalam buku Animals, Property, and the Law.

Juga penulis pembela hak-hak hewan, tumbuhan, dan lingkungan lainnya. Yang juga menghiruk pikukan paham environmentalisme sebagai gerakan politik akar rumput yang populer sejak dekade 1960-an. Di masa berikutnya berkembang pula etika baru bernama etika lingkungan.

[irp]

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: