Aziil Anwar Membangkitkan Pesona Mangrove di Karang Cadas

Klikhijau.com - Bila air laut pasang dan musim ombak tiba, air laut merengsek ke daratan. Abrasi terjadi di wilayah pesisir pantai. Cepat atau lambat, abrasi yang terus-menerus, akan membahayakan akti...

Aziil Anwar Membangkitkan Pesona Mangrove di Karang Cadas
Bacakan Artikel

Di tahun 1990-an, Aziil mendirikan sebuah organisasi bernama Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD). Bersama rekan-rekannya di Yayasan berbasis komunitas inilah, dirinya dapat memperluas jaringan partisipatif untuk mendukung edukasi tentang pentingnya penanaman mangrove.

Memberi Edukasi ke Generasi Muda

Pria yang pernah menerima penghargaan sebagai pemuda pelopor pada tahun 1993 dari Presiden Soeharto ini pun sangat intens mensosialisasikan mangrove ke sekolah-sekolah. Edukasi pada generasi muda amat penting baginya, agar sejak dini anak-anak dapat mengerti fungsi mangrove sehingga kelak dapat melestarikannya.

Di kawasan mangrove seluas 60 hektar yang dirintisnya selama lebih dari 26 tahun, Aziil telah menjadikan lahan tersebut sebagai pusat pembelajaran mangrove (Mangrove Learning Center).

Partisipasi sejumlah sekolah di Majene semakin tinggi berkat kerja kerasnya membina sekolah-sekolah selama bertahun-tahun. Kini, penanaman mangrove setiap tahunnya tidak lagi dilakukannya sendirian, Aziil hanya menghubungi sekolah terdekat dan siswa-siswa akan ramai-ramai bergotong royong menanam.

Selain itu, sejumlah warga dan ibu-ibu rumah tangga secara swadaya membantunya. Di Pantai Baluna inilah, kita dapat menyaksikan bagaimana antusiasme tinggi ibu-ibu melubangi karang mati menggunakan linggis lalu menanam mangrove. Kebersamaan seperti itu, bagi Aziil menjadi berkah tersendiri. “Semua itu bisa terwujud karena adanya kesadaran dari masyarakat betapa besarnya fungsi mangrove bagi kehidupan di wilayah pesisir,” ungkapnya.

Pria penerima Kahati Award 2015 di bidang Prakarsa Lingkungan ini mengakui, memelihara mangrove bukanlah pekerjaan gampang. “Merawat mangrove itu seperti merawat bayi. Paling ribet itu pemeliharaannya di beberapa bulan awal. Kita harus menjaga agar batangnya tidak terluka akibat lilitan sampah plastik. Kerang dan tiram juga harus diawasi agar tidak menganggu batangnya,” jelasnya.

Itulah sebabnya, Aziil mengkritisi berbagai gerakan penanaman mangrove yang dilakukan pemerintah atau swasta yang hanya berfokus pada penanaman. “Di mana-mana kita liat program penanaman hanya selesai secara seremonial.

Setelah penanaman, mangrove nya pun akan mati dalam beberapa hari. Padahal, pemeliharaan mestinya dilakukan karena akan menentukan pertumbuhan mangrove. Kalau tidak dirawat baik-baik pastilah mati,” terangnya.

Membangun Mangrove Berbasis Warga

Hingga tahun 2016 ini, sudah tumbuh sekitar 800.000 pohon mangrove di wilayah yang dirintis Aziil Anwar bersama warga dan komunitasnya. Di kawasan tersebut, beberapa jenis mangrove bisa ditemui antara lain; rhyzophora apiculata, rhyzophora stylosa, rhyzophora mucronata, bruguiera gymnorrhiza, avicenna marina, avicenna alba, ceriops tagal, aegiceras corniculatum, xylocarpus granatum, sonneratia alba, phemphis acidula, scaevola taccada, dan pandanus tectorius.

Di area Mangrove Learning Center (MLC) tersebut juga ada lokasi khusus untuk pembibitan. Kelompok pembibitan mangrove tersebut diberi nama ‘Kelompok Rimbawan Majene’.

“Kami melibatkan warga sekitar dalam pembibitan dan pemeliharaan mangrove,” jelas Aziil. Perempuan paling banyak terlibat di pembibitan. Peran perempuan, kini telah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi rumah tangga warga sekitar. Lumayan, setiap sekali penjualan, setiap anggota yang bergabung dalam kelompok pembibitan bisa memperoleh uang tambahan antara 3 hingga 5 juta.

Tidak main-main, produktivitas pembibitan mencapai 500.000 batang per tahun. Data penjualan di periode tahun 2013 hingga 2014 misalnya mencapai 397.000 bibit, dengan omset penjualan lebih dari 500 juta rupiah.

Kini, fungsi mangrove semakin dirasakan oleh masyarakat sekitar. Rumah-rumah yang berdiri di tepian pantai tidak lagi merasakan dampak dari derasnya hantaman ombak.

Para peternak juga tidak lagi kesulitan untuk pakan kambingnya, karena daun bakau tersedia dalam jumlah yang banyak. Dampak ekonomi lainnya adalah asupan protein masyarakat terpenuhi karena kepiting, kerang dan udang berkembang biak dengan baik di pesisir pantai.

Penerima Kalpataru pada 2003 silam ini memang berhasil menularkan pengetahuan dan pengalamannya dalam budidaya mangrove pada masyarakat. Selain warga sekitar, Aziil juga mendapat dukungan moral yang kuat dari keluarganya.

Adiknya Afiq (47) bahkan rela mendampinginya mengurusi mangrove. Bagi Afiq, kakaknya sudah sangat menjiwai dunia mangrove. Ketertarikannya untuk menghabiskan waktunya di dunia lingkungan memang suatu panggilan nurani.

“Aziil berbuat dengan hati. Impiannya sederhana, ia ingin semakin banyak orang mencintai mangrove,” jelas Afiq. Kecintaan Aziil pada lingkungan juga ditransformasi ke anak-anaknya.

Pria yang sudah berpuluh tahun tak pulang ke Ternate tersebut memberi nama anak- anaknya dengan nama khas bernuansa alam seperti Rimbawan, Rimba, dan Belantara. “Itu supaya mereka juga kelak mengerti dan mencintai alam dan lingkungan,” katanya tertawa.

Akan Mengembangkan Eco Wisata

Seluruh aktivitas pengembangan mangrove yang dipelopori Aziil Anwar didanai secara swadaya dan berbasis gotong royong. Hari-harinya pun dihabiskan bercengkrama dengan belantara mangrove.

Sebuah rumah panggung berukuran sederhana kini menambah ruang berdiskusi dan bercengkrama sambil menikmati deru angin sepoi yang berhembus sejuk dari pepohonan bakau. Bangunan itu adalah bantuan dari Pemerintah Setempat. Tempat yang sangat kondusif untuk berdiskusi sambil menikmati kopi khas Majene.

Di pelataran itu pula, Aziil bersama komunitasnya membuka perpustakaan mini. “Kami membuat rumah baca di sini agar pengunjung dan warga sekitar bisa datang membaca,” kata Aziil. Sejumlah buku masih tergeletak begitu saja agar pengunjung bisa bebas membaca.

Hampir setiap akhir akhir pekan sejumlah sekolah berkunjung belajar tentang mangrove sambil menikmati pemandangan indah berkeliling di hamparan mangrove nan hijau. Tim SINERGI sempat diajak berkeliling di panas terik melihat panorama mangrove dan pohon tua santigi khas Majene. Daya tarik wisata di kawasan ini cukup memukau.

Pemandangan akan lebih menyenangkan di awal pagi atau di saat senja tenggelam di waktu sore. Dari dalam belantara mangrove kita dapat menyaksikan riuh kelelawar beterbangan dengan jumlah yang massif. Beberapa tahun terakhir, rimbunnya pepohonan mangrove menjadi istana bagi kawanan kelelawar.

Air yang surut di siang hari akan membuat akar pepohonan terlihat meranggas. Pemandangan itu tentu sangat eksotik untuk dijadikan baground fotografer. Belum lagi, beragam ikan laut yang bergerombol ketepian nampak jelas saat air surut.

“Kami berharap tempat ini bisa menjadi lokasi eco wisata. Tempat belajar lingkungan sambil berwisata,” kata Aziil. Kini, lokasi Aziil Anwar telah digandrungi banyak orang sebagai sebuah spot foto yang menawan. Estetika berfoto di kawasan ini mengandalkan pohon santigi dan keindahan pohon mangrove yang tumbuh di atas karang cadas.

Biodata

Nama lengkap: Aziil Anwar

Tempat lahir: 61 tahun di Ternate Maluku

Penghargaan:

1. Pemuda Pelopor dari Presiden Soeharto 1993

2. Kalpataru dari Presiden SBY tahun 2003

3. Kahati Award tahun 2015

Pekerjaan:

Penyuluh Kehutanan di Kabupaten Enrekang 1983-1989

Penyuluh Kehutanan di Kabupaten Majene 1990-sekarang

Anak istri pertama:

1. Farhan Rimbawan

2. Fuad Hasan

Anak istri kedua:

1. Faisan Rimba Perkasa

2. Rapian Cakra Belantara

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2