Aku Masih Suka Duduk di Dekat Jembatan Tua

aku masih saja suka duduk di dekat jembatan tua. bukan saja karena aku bisa bercakap dengan hewan-hewan dan benda mati. selain malam-malam gamang, ada seekor kucing suka melirikku dari balik kardus be...

Aku Masih Suka Duduk di Dekat Jembatan Tua
Bacakan Artikel

sementara itu langit di atas kepalaku seperti kain sobek yang dijahit dengan kawat. di sela jahitannya, cahaya redup merembes, melukis jalanan dengan bayangan yang bergerak sendiri. udara di sekitarku lebih mirip uap dari besi panas, menempel di kulit, masuk ke paru-paru dengan berat yang aneh.

seekor burung malam terbang rendah, entah jenis dari spesies apa, jatuh di trotoar. Tepat di depanku, matanya membelalak seperti lampu yang mati mendadak. aku menunduk untuk melihatnya lebih dekat, tetapi burung itu mulai mengelupas—bulu-bulunya luruh menjadi serpihan kertas koran, sayapnya patah seperti ranting kering, paruhnya berubah menjadi potongan kaca. di antara reruntuhannya, aku menemukan sebuah paku yang berkarat.

di sudut jalan, sebuah bangunan tua berbicara tanpa mulut. suaranya keluar dari retakan-retakan dindingnya, berat dan bergema seperti suara air yang jatuh ke sumur dalam.
“kau tahu, dulu aku adalah tempat orang berlindung,” katanya.
“sekarang kau apa?”
“sarang debu dan kenangan.”

aku menyentuh dindingnya. dingin, tetapi tidak seperti batu; lebih seperti tulang beku yang menolak disentuh. ah, laut memang tak pernah berwarna biru. ia memantulkan cahaya dengan cara yang salah. ombaknya naik dan turun dengan ritme seperti napas seseorang yang tertahan oleh kemarahan. di pantainya, ikan-ikan terdampar, tubuh mereka tidak lagi utuh. kulit mereka berubah menjadi plastik bening, dan di dalamnya, terlihat bayangan kota yang tenggelam.

di sana juga ada bayangan sebuah ladang yang tak lagi menumbuhkan apa-apa kecuali batu, seorang wanita memetik bunga yang tak ada. ia mencoba mengumpulkannya sebelum hilang seluruhnya. ia menggenggam sesuatu yang tidak terlihat, lalu memasukkannya ke dalam keranjang jerami yang berlubang di mana-mana.

di kejauhan, gunung menghitam seperti arang yang belum mati sepenuhnya. asap naik dari puncaknya, bergerak lambat seperti ular yang malas.

aku mendekat, tetapi tanah di sekitarnya retak, membuka celah seperti mulut yang lapar. dari celah itu, aku mendengar suara-suara: tangisan anak-anak, denting sendok di piring kosong, ledakan tambang yang berulang-ulang seperti detak jantung yang rusak.

aku masih saja suka duduk di dekat jembatan tua. dan aku tahu tak akan pernah ada bobby kertanegara di sana selain kucing liar itu, kardus bekas, dan truk sampah.

Palampang, 15 November 2024

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2