Air yang Kebingungan Mencari Jalan di Makassar

Klikhijau.com - Metafora "Air yang Kebingungan Mencari Jalan" satu kalimat yang menangkap konflik fundamental antara hukum alam dan tata ruang kota yang perlu perhatian dalam ambisi pembangunan. No...

Air yang Kebingungan Mencari Jalan di Makassar
Bacakan Artikel

Kebijakan mengenai Ruang Terbuka Hijau (RTH) seolah bukan prioritas. RTH, seperti paru-paru kota, memiliki fungsi vital sebagai area serapan air. Ketika target RTH tidak tercapai dan setiap jengkal tanah dianggap sebagai potensi ekonomi, kota secara perlahan kehilangan kemampuan untuk "minum" air hujan.

Akibatnya, air yang seharusnya meresap ke dalam tanah dipaksa lari ke permukaan, menambah volume yang harus ditanggung oleh drainase yang sudah kolaps. Jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu, lahan yang dikorbankan untuk pembangunan kini jauh lebih banyak dan agresif, membuat banjir bukan lagi kejadian musiman, melainkan risiko harian di musim penghujan.

Kesadaran dan Tata Kelola

Pada dasarnya, banjir bukan hanya masalah teknis (drainase) atau masalah tata ruang (RTH), tetapi juga masalah kesadaran dan tata kelola.

Dahulu, 10 tahun yang lalu, banjir di Makassar mungkin terasa lebih terlokalisasi dan insidental. Namun, saat ini, banjir terjadi lebih sering dan merata, bahkan di wilayah yang dulunya dianggap aman. Perbedaan ini menunjukkan adanya akumulasi kegagalan dalam perencanaan dan tata kelola kota.

Di sisi kebijakan, pemerintah kota dihadapkan pada dilema antara menarik investasi melalui pembangunan dan menjaga ekologi kota. Seringkali, izin pembangunan diberikan tanpa pertimbangan ketat terhadap dampak hidrologis.

Sementara itu, kesadaran publik untuk menjaga kebersihan dan lingkungan, meskipun ada peningkatan kampanye, belum sepenuhnya merata. Kita masih seringkali luput bahwa membuang satu kantong sampah ke selokan adalah kontribusi nyata terhadap "kebingungan" air yang akan menggenangi jalanan di pemukiman hingga ke jalan akses utama.

Fenomena "Air yang Kebingungan" di Makassar adalah cerminan dari ketidakseimbangan antara ambisi pembangunan dan kearifan lingkungan. Dalam sepuluh tahun terakhir, kota ini telah membiarkan permukaan tanahnya mengeras dan saluran airnya tersumbat.

Untuk mengatasi kebingungan ini, diperlukan pendekatan holistik, perbaikan masif dan terintegrasi pada sistem drainase, penegasan kembali fungsi dan penambahan RTH sebagai area serapan wajib, serta peningkatan kesadaran publik yang didukung oleh penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan perkotaan.

Makassar harus memberi ruang bagi air untuk mengalir dan meresap kembali, agar kota ini dapat tumbuh maju tanpa harus terus-menerus tergenang oleh air yang kehilangan jalannya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2