Agroekologi Sebagai Alternatif untuk Mengatasi 'Climate Change'

Klikhijau.com - Pada laporan IPCC tentang “Climate Change and Land” (2019), telah memperkirakan bahwa secara global, sektor pertanian bertanggung jawab secara langsung atas 8,5% dari seluruh emisi gas...

Agroekologi Sebagai Alternatif untuk Mengatasi 'Climate Change'
Bacakan Artikel
Wahyu Setyawan

Artikel terbaru dari Wahyu Setyawan (lihat semua)

Klikhijau.com - Pada laporan IPCC tentangClimate Change and Land (2019), telah memperkirakan bahwa secara global, sektor pertanian bertanggung jawab secara langsung atas 8,5% dari seluruh emisi gas rumah kaca dan 14,5% lainnya berasal dari perubahan penggunaan lahan.

Hal ini juga disampaikan pada gelaran COP26 di Glasgow dilaporkan bahwa ada peningkatan sekitar 17% emisi global berasal dari sektor pertanian dan produksi pangan, kondisi tersebut telah terjadi selama tiga dekade terakhir.

Lalu, jika merujuk pada laporan FAO pada tahun 2019 berjudul “The share of agri-food systems in total greenhouse gas emissions Global, regional and country trends 1990–2019” mengatakan jika porsi sistem pertanian-pangan dalam total emisi gas rumah kaca menurun dari 40% menjadi 31% antara tahun 1990 dan 2019, tetapi emisi dari sistem ini meningkat sebesar 16%.

Secara lebih detail, bahwa sistem pertanian dan pangan global menyumbang sekitar 17 miliar ton emisi karbon atau turut berkontribusi sekitar 31% dari total emisi global. Sektor pertanian di Indonesia sendiri menyumbang sekitar 2,4% emisi pertanian global, dengan sektor pertanian padi yang menyumbang sekitar 57,88% dari total emisi pertanian nasional.

Sementara pada laporan lain berjudul “Profil Carbon Brief: Indonesia” yang diterbitkan oleh CarbonBrief, menyebutkan jika pada rentang tahun 2015 sampai 2021, sektor pertanian Indonesia mengeluarkan sekitar 2,31 miliar ton setara CO2 (CO2e).

Sektor pertanian padi telah menjadi penyumbang terbesar emisi tersebut, diikuti oleh emisi dari fermentasi enterik pada ternak dan emisi dari sektor pertanian lainnya. Ketergantungan pada metode pertanian industrial telah memperburuk jejak lingkungan pertanian di negara ini.

Sebagai contoh proyek revolusi hijau yang dijalankan pada era orde baru, lalu proyek intesifikasi pertanian serta food estate pada era SBY, dan yang terbaru proyek food estate pada era Jokowi yang kemudian dilanjutkan pada era Prabowo.

Pertanian monokultur pada program intensifikasi, lalu ditambah dengan deforestasi pada program food estate. Paling tidak praktik semacam ini menggunakan metana dan diesel secara langsung melalui alat-alat berat untuk membuka lahan pertanian serta proses produksinya, ditambah dengan penggunaan pupuk sintetis dan bahan bakar fosil, menjadikan Indonesia sebagai penyumbang, karbondioksida, metana dan dinitrogen oksida yang cukup signifikan.

Problem Pangan yang Diteruskan

Pada dasarnya praktik intesifikasi dan ekstensifikasi pertanian merupakan jawaban pragmatis dalam menjawab problem food security.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2