- Mata Waktu - 12/04/2026
- Cerita Elang Alap Jepang yang Lepas dari Jeratan Maut - 05/04/2026
- Walisongo, Tanaman yang Menawarkan Keindahan Sekaligus Keunikan pada Daunnya - 26/03/2026
Klikhijau.com – Bumi kita tidak sedang baik-baik saja. Seiring dengan semakin banyaknya (keinginan) manusia yang ternyata tidak diiringi dengan peningkatan kesadaran terhadap lingkungan.
Bumi kita sedang menghadapi masalah serius. Setidaknya ini pulalah yang selalu diperjuangkan aktivis muda lingkungan Greta Thunberg. Pun demikian dengan para aktivis lingkungan lain yang memiliki kekhawatiran yang sama.
Perubahan iklim dan cuaca tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan mental. Ada yang merasa cuek saja sebagaimana barangkali kebanyakan dari kita.
Bagi mereka, tidak peduli bumi akan seperti apa, toh mereka akan meninggal sebelum bumi benar-benar rusak. Jenis orang ini tidak akan peduli dengan masa depan bumi. Masa depan yang dimaksud adalah kehidupan anak cucunya beserta makhluk hidup yang lain.
Berdampak psikologis
Bersyukurlah bahwa tidak semua dari kita termasuk dalam kategori manusia seperti ini. Masih banyak di antara kita yang tidak hanya peduli dampak langsung perubahan iklim pada lingkungan, tetapi juga pada psikologis.
Caroline Hickman, seorang psikoterapis dan peneliti yang berfokus pada sikap anak-anak terhadap perubahan iklim menyebut bahwa depresi perubahan iklim ‘climate change depression’ bersifat rasional dan respons yang normal terhadap ancaman perubahan iklim ini.
Hickman menyarankan untuk menghilangkan depresi terhadap perubahan iklim yang berlebihan dengan bergabung pada kegiatan-kegiatan peduli lingkungan, terlibat pada diskusi terkait lingkungan, dan turut mendukung program-program yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan.
Pada sebuah program bernama “Carbon Conversation” yang mencakup diskusi grup dan aktivitas untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Hasilnya? Separuh dari anggota yang tergabung menyebut jika program tersebut membantu mereka menghadapi kecemasan terhadap perubahan lingkungan.
Hal yang sama ditunjukkan pada studi di Enviromental Health Clinic di New York University yang menyebut jika kegiatan/aksi yang terkait dengan iklim dan juga aktivitas grup dapat mengurangi stres secara emosisional jika luapan emosi kekhawatiran tersebut dialihkan dalam praktik kegiatan langsung.
Dalam praktik konselingnya, Hickman memiliki formula tersendiri yang mungkin dapat kita praktikkan, terutama jika kita termasuk yang memiliki kekhawatiran terhadap dampak perubahan lingkungan. Prinsip itu: stop, breath, think, connect, and act.
Tapi, bukankah kita semua memang seharusnya khawatir dengan dampak kerusakan lingkungan yang memang besar kecilnya disebabkan oleh perilaku kita sendiri?








