WALHI Sulsel Kirimkan Pesan Keadilan Ekologi untuk Gubernur dan Seluruh Kepala Daerah

Klikhijau.com - Penghujung tahun 2024, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar konferensi pers peluncuran Laporan Catatan Akhir Tahun 2024 dengan judul 'Pesan Kea...

WALHI Sulsel Kirimkan Pesan Keadilan Ekologi untuk Gubernur dan Seluruh Kepala Daerah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Penghujung tahun 2024, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar konferensi pers peluncuran Laporan Catatan Akhir Tahun 2024 dengan judul 'Pesan Keadilan Ekologi untuk Gubernur dan Seluruh Kepala Daerah di Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan di Red Corner Cafe, Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Rappocini.

Direktur WALHI Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin, dalam sambutannya menjelaskan bahwa dalam peluncuran catatan akhir tahun WALHI Sulsel 2024, WALHI hendak memberikan gambaran dan situasi objektif tentang kondisi ekologi Sulawesi Selatan serta masukan konstruktif untuk mencegah Sulawesi Selatan menjadi daerah yang rusak, dan terus dilanda bencana ekologis.

"Semoga catatan akhir tahun ini menjadi informasi dan pesan kuat yang berharga bagi Gubernur Sulsel dan Bupati terpilih tentang pentingnya mewujudkan keadilan ekologi di Sulawesi Selatan, sehingga selama kepemimpinan mereka, lahir kebijakan-kebijakan yang adil dan Lestari," katanya.

Setelah pembukaan, kegiatan langsung dilanjutkan dengan pemaparan tim penulis Catahu WALHI Sulawesi Selatan. Pemaparan pertama diawali oleh Nurul Fadli Gaffar yang menjelaskan bahwa Tahun ini kembali mengingatkan kita betapa rapuhnya kehidupan di tengah ancaman bencana yang terus meningkat. Mulai dari banjir yang melanda pemukiman, longsor yang meregang nyawa, hingga kekeringan yang meruntuhkan harapan.

"Berdasarkan temuan kami dari berbagai sumber yang diolah, setidaknya sepanjang tahun 2024 telah ada 362 kali bencana ekologis di Sulawesi Selatan dengan total kerugian mencapai 1,9 trilliun rupiah,” ungkapnya.

Selain itu, Fadli juga mengungkapkan bagaimana kondisi Kota Makassar yang sangat rentan karena dipengaruhi oleh tiga Daerah Aliran Sungai (DAS Tallo, DAS Maros, dan DAS Jeneberang) yang kritis karena tutupan hutannya hanya di bawah 30%.

"Secara ekologi, inilah yang mempengaruhi terjadinya krisis air di utara Kota Makassar khususnya di Kecamatan Tallo. Selain itu, temuan kami juga menemukan telah terjadi ketimpangan atas akses air bersih karena ternyata air lebih banyak dialirkan ke wilayah barat Kota Makassar ketimbang ke utara Kota Makassar,"  tambahnya.

Terakhir, Fadli menjelaskan bagaimana temuan analisis spasial WALHI Sulawesi Selatan di utara tepatnya di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir, terjadi penurunan kehilangan hutan dari 8.943,90 hektar pada tahun 2019 menjadi 4.373,38 hektar per tahun pada tahun 2021.

"Namun, eksploitasi hutan di Pegunungan Tokalekaju terus meningkat, mencapai 10.194,89 hektar kehilangan hutan per tahun pada tahun 2023,”  lanjutnya.

Banyak konflik sumber daya alam

Zulfaningsih HS lebih lanjut menjelaskan soal bagaimana ekspansi Izin Usaha Pertambangan di rimba terakhir Sulawesi Selatan tepatnya di sekitar kompleks Danau Malili utamanya Danau Towuti semakin meningkat tiap tahunnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2