Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Apa pun yang terjadi dalam cerita ini, kau musti percaya. Sebab ini kutulis dengan penuh kesadaran pada sebuah pagi yang lupa menyiapkan sarapan. Maka kau harus percaya, aku tak mungkin mengisahkan ce...

Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Apa pun yang terjadi dalam cerita ini, kau musti percaya. Sebab ini kutulis dengan penuh kesadaran pada sebuah pagi yang lupa menyiapkan sarapan. Maka kau harus percaya, aku tak mungkin mengisahkan cerita bohong dalam kondisi perut yang sedang keroncongan. Baiklah, begini kisahnya :

Segalanya memang berawal dari sebuah kilat di langit. Diikuti oleh suara yang sungguh memekakkan telinga dan langit seperti terbelah. Seorang lelaki berjubah dengan kereta kencana muncul. Turun ke Bumi. Orang-orang di dusun itu mengira kiamat datang secepat ini. Mereka meratap, memohon ampun kepada pemilik Bumi. Tapi si lelaki berjubah hanya tersenyum manis. Hanya tersenyum manis, kemudian berkata,

"Aku datang ke sini hanya untuk membeli segala macam sampah, baik itu plastik, bungkus deterjen, botol air mineral, dan apa saja."

Sahdan, salah seorang tokoh di dusun itu manggut-manggut. Warga lain pun mengikuti. Perlahan mereka keluarkan apa yang ada di dalam rumah; ampas odol, bekas botol air mineral, bungkus deterjen, karton bekas, dan tikar yang tak dipakai lagi. Lelaki berjubah itu mengeluarkan alat timbang. Menimbang barang-barang warga. Membayarnya seharga 660 ribu per-kilo. Ratusan lembar uang ratusan ribu ia keluarkan dari saku jubahnya. Semua warga terkesima dan senyum bahagia.

Setelah semua proses penimbangan dan pembayaran tuntas. Lelaki berjubah itu berucap, "Aku akan datang lagi di hari yang tak kalian duga." Kereta kencana itu kemudian melaju cepat dan terbang kembali menuju langit.

Semua warga bersyukur. Mereka menduga Tuhan memberi mukjizat bagi dusun itu. Sahdan dapat uang 1 juta 320 ribu sebab barang yang dijual seberat dua kilo. Mariam dapat 660 ribu saja sebab barangnya hanya sekilo. Warga lain beragam yang didapat. Ada yang 500 ribu, ada 760 ribu, ada yang dapat cuman 100 ribu sesuai dengan berat barang yang mereka jual.

"Orang itu membeli sesuai harga satu gram emas untuk sampah ukuran sekilo," Sahdan bicara pada Mariam dengan wajah sumringah penuh bahagia.

"Kita harus kumpulkan lebih banyak lagi. Siapa tau secepatnya lelaki itu akan datang kembali" Jawab Mariam dengan wajah merah, seperti masih tak percaya dengan segala kejadian barusan.

"Ia pasti akan kembali. Ia diturunkan langit dan orang yang dari langit tak mungkin berbohong." Timpal Muhidin, yang mendengar obrolan Mariam dan Sahdan. Muhidin tadi hanya dapat seratus ribu sebab barangnya hanya sedikit. Tapi ia tetap bersyukur, sebab ia hanya lelaki pengangguran yang hanya menghabiskan waktu main kartu di pos ronda. Uang seratus ribu lebih dari cukup baginya.

***

Sejak itu, Sahdan yang punya sawah beberapa hektar tak lagi sibuk mengurus sawahnya. Ia lebih sering ke sungai, mencari sampah apa saja untuk dipungut. Kadang ia temukan bekas pampers bayi, kadang ia temukan pula bekas kardus mi instan. Ia masukkan semuanya ke dalam karung. Tak jarang pula ia berpapasan dengan Muhidin yang juga menenteng karung dengan tujuan yang sama. Sahdan memberi senyum, Muhidin pun membalas.

Sementara si Mariam berniat ke warung Mpok Sadnah untuk membeli apa saja yang bisa menyisakan sampah, seperti air mineral, permen, snack dan nasi bungkus. Tapi sayang, Mpok Sadnah tak buka warung. Mpok Sadnah sibuk membuka semua bungkus barang dagangannya untuk dijual nanti pada lelaki berjubah jika ia datang lagi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2