Suku Kajang, Para Pelestari Hutan dari Bulukumba

Klikhijau.com - Perjalanan saya untuk menemui suku Kajang sungguh mengesankan. Mereka tinggal di kawasan adat Tanatoa di Bulukumba. Bulukumba merupakan kabupaten di ujung selatan pulau Sulawesi. Ka...

Suku Kajang, Para Pelestari Hutan dari Bulukumba
Bacakan Artikel
Dina Yulianti

Artikel terbaru dari Dina Yulianti (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Perjalanan saya untuk menemui suku Kajang sungguh mengesankan. Mereka tinggal di kawasan adat Tanatoa di Bulukumba.

Bulukumba merupakan kabupaten di ujung selatan pulau Sulawesi. Kalau kita melihat peta, pulau Sulawesi seolah punya dua kaki. Bulukumba berada di ujung salah satu kakinya. Dapat dibayangkan, selama perjalanan menuju Bulukumba dari Makassar, saya dimanjakan oleh pemandangan pantai-pantai yang indah.

Dari kota Bulukumba, saya dan teman-teman menempuh perjalanan lagi sekitar 56 kilometer ke arah timur laut. Sebelum memasuki kawasan wisata adat Tanatoa, saya bersama teman-teman mampir dulu ke rumah Daeng Kahar, salah seorang tokoh Suku Kajang. Jabatan adatnya adalah Loha Galla Lombo. Rumah beliau berupa rumah panggung besar yang terbuat dari kayu. Daeng Kahar seorang pria dengan penampilan yang kharismatik. Senyumnya sangat ramah dengan mata yang bersinar cerdas.

Awalnya, percakapan kami dengan Daeng Kahar terasa serius, namun lama-kelamaan menjadi cair karena Daeng rupanya suka bercanda. Daeng menceritakan bagaimana upayanya mendorong anak-anak suku Kajang untuk bersekolah. Daeng sendiri menempuh pendidikan hingga sarjana. Saat ini, warga suku Kajang terbagi menjadi dua komunitas. Suku Kajang Luar menjalani kehidupan modern, seperti bersekolah, berkarir, serta menggunakan teknologi (listrik, mobil, televisi, dan berbagai alat elektronik lainnya).

Sebaliknya, warga suku Kajang Dalam tinggal di dalam Kawasan Adat Ammatoa; mereka masih menjaga nilai-nilai tradisional mereka, utamanya menjauhkan diri dari segala bentuk modernitas. Jadi, di sana tidak ada listrik dan tidak ada teknologi baru. Bahkan sandal dan sepatu pun dilarang digunakan.

Situasi ini terasa dilematis buat saya. Manakah yang lebih baik? Ataukah tidak perlu dibanding-bandingkan, seperti kata Farel Prayoga? Bukankah setiap manusia berhak memilih cara hidupnya masing-masing? Toh, di suku Kajang, warganya diperbolehkan untuk memilih.

Bila mereka ingin menjalani kehidupan modern, mereka bisa pergi dan berdomisili di kawasan Kajang Luar dan mereka yang ingin berpegang teguh pada tradisi leluhur akan tetap bersama Ammatoa di kawasan Kajang Dalam.

Diskusi dengan Daeng Kahar sungguh menarik karena wawasannya yang luas. Antara lain, kami bahkan membandingkan sistem ‘pemerintahan’ suku Kajang dengan sistem pemerintahan di Iran, Wilayatul Faqih,  yaitu kepemimpinan di tangan fakih. Fakih artinya ahli hukum Islam atau ulama tingkat mujtahid yang sangat memahami syariat atau hukum Islam.

[caption id="attachment_27915" align="alignnone" width="821"]kajang Bersama Abdul Kahar Musilim (tokoh masyarakat di Kajang) - Foto: Ist[/caption]

Di suku Kajang, pimpinan suku adalah Ammatoa, yang memiliki pemahaman paling tinggi mengenai filosofi dan aturan adat yang telah diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad yang lalu. Ammatoa terdiri dari dua kata, ‘amma’ berarti Bapak, sedang ‘toa’ berarti dituakan. Ammatoa diyakini dipilih oleh Tuhan (mereka sebut ‘Turiek Akrakna’) dengan masa jabatan seumur hidup, lalu jabatan itu diwariskan kepada keturunannya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2