Sering Kurang Tidur? Ini Dampaknya, Poin Terakhir Paling Berbahaya

Klikhijau.com - Tidak sedikit orang yang sering mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur, khususnya insomnia, sudah menjadi hal yang umum terjadi pada masyarakat modern. Hal ini dipicu oleh gaya hi...

Sering Kurang Tidur? Ini Dampaknya, Poin Terakhir Paling Berbahaya
Bacakan Artikel

Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari Pusat Biologi Sistem Rumah Sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat dikutip dari Liputan6.com.

Narkolepsi adalah suatu bentuk gangguan saraf yang memengaruhi kemampuan otak untuk mengatur siklus bangun-tidur seseorang.

Selain itu, Kemal Al Fajar di laman Hellosehat.com, menuliskan bahwa para peneliti yakin, tidur yang tidak teratur tersebut berdampak pada proses inflamasi pembuluh dari akibat meningkatnya tekanan darah dan detak jantung.

Jika berlangsung dalam waktu yang lama secara berturut-turut dapat menimbulkan dampak yang serius terhadap kesehatan jantung.

Gangguan kesehatan mental

Seiring waktu, kurang dan gangguan tidur dapat berkontribusi pada gejala depresi. Gangguan yang paling umum, insomnia, memiliki hubungan terkuat dengan depresi.

Dalam sebuah penelitian di tahun 2007 terhadap 10.000 orang, mereka yang menderita insomnia lima kali lebih mungkin untuk mengalami depresi.

Faktanya, insomnia seringkali merupakan salah satu gejala depresi pertama. Kurang tidur sering memperburuk gejala depresi yang dapat membuat Anda lebih sulit untuk tertidur.

Selain depresi, gangguan kesehatan mental yang timbul akibat insomnia dapat berupa kecemasan, kebingungan, dan frustasi.

Gangguan sistem kekebalan tubuh

Saat tidur, tubuh kita akan memproduksi sitokin. Sitokin merupakan protein-protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh.

Sitokin berfungsi untuk membantu tubuh melawan infeksi, peradangan, dan stres.

Jika kurang tidur, maka sitokin akan diproduksi lebih sedikit.

Kurang tidur akan menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh dalam menyerang atau melawan infeksi.

Sehingga dapat menyebabkan proses pemulihan tubuh atau proses penyembuhan secara alami menjadi terhambat.

Risiko kematian

Mengalami insomnia dapat mempersingkat harapan hidup Anda. Sebuah analisis dari 16 studi yang mencakup lebih dari 1 juta peserta dan 112.566 kematian melihat korelasi antara durasi tidur dan kematian.

Mereka menemukan bahwa tidur yang kurang meningkatkan risiko kematian sebesar 12 persen, dibandingkan dengan mereka yang memiliki waktu tujuh hingga delapan jam per malam.

Di laman Liputan6.com, Anugerah Ayu Sendari menuliskan ada sebuah studi yang lebih baru melihat efek insomnia dan mortalitas persisten selama 38 tahun.

Mereka menemukan bahwa mereka yang menderita insomnia persisten memiliki risiko kematian 97 persen lebih tinggi.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2