Serentang Jarak

Ia baru saja bangun. Bekas iler masih mengilar di dekat bibirnya. Warnanya putih dengan bau menyengat. Semalam ia tidur cepat dan lupa sikat gigi. Gigil menyergapnya di awal malam, dan selimut tebal m...

Serentang Jarak
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Ia baru saja bangun. Bekas iler masih mengilar di dekat bibirnya. Warnanya putih dengan bau menyengat. Semalam ia tidur cepat dan lupa sikat gigi. Gigil menyergapnya di awal malam, dan selimut tebal membalut tubuhnya.

Lima atau sembilan menit dalam selimut, tubuhnya menghangat dan ia tak ingat apa-apa lagi. Ia hanya terbangun sebentar karena kau meneleponnya. Namun, ketika ia angkat, teleponmu telah terputus.

Ia ingin meneleponmu balik. Hanya saja rasa kantuk menguasai seluruh kesadarannya hingga kembali pulas. Hape masih tergenggam di tangannya.

Ia bangun dengan kepala pening. Gigil telah hilang dari tubuhnya, ia menyingkap selimut tebal berwarna biru. Mengecek jam di hapenya dan membaca chatmu. Masih empat puluh tujuh menit lagi jam enam pagi. Ia bergegas ke kamar mandi. Membuang kencing yang terasa telah menggumpal gunung di kantong kemihnya.

Ketika masuk kamar mandi, pandangannya mengarah ke baskom warna hitam. Jaket warna merah pemberianmu masih ia rendam. Tepatnya lupa mencucinya, capek menyerangnya kemarin sehabis pulang dari kebun.

Di kampungnya yang sepi berpagar pepohonan, musim tire telah tiba. Kemarin separuh hari ia di kebun memanen tire.

Tire,  awalnya adalah gulma yang bebal. Tak ingin mati. Hadirnya meresahkan petani. Namun kini berubah jadi primadona. Orang-orang berlomba menamannya, juga berlomba pula mencurinya.

Saat harga kopi jatuh ke titik nol dengan mengerikan. Dan hasil panen cengkih hanya meninggalkan kenangan saja karena telah habis. Tire muncul jadi penyelamat warga, jadi sandaran mengepulkan asap dapur.

“Apa yang bisa kau temukan dalam jarak? Aku temukan rindu menampar-nampar dengan beringas dan binal,” ia menemukan chatmu pagi ini. Pagi yang masih berbau iler di wajahnya.

“Aku tak temukan apa-apa,” balasnya dingin sebelum bangun dan melangkah ke kamar mandi.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2