Serentang Jarak

Ia baru saja bangun. Bekas iler masih mengilar di dekat bibirnya. Warnanya putih dengan bau menyengat. Semalam ia tidur cepat dan lupa sikat gigi. Gigil menyergapnya di awal malam, dan selimut tebal m...

Serentang Jarak
Bacakan Artikel

โ€œIya, tire, yang telah jadi idola baru bagi petani,โ€ jelasnya.

[irp]

Tentu saja tanpa penjelasan darinya pun kau akan tahu. Bukankah orang tuamu biasa memanen tire hingga ratusan kilo.

Ia dan keluarganya tak lagi mampu mengandalkan kopi untuk melamarmu kelak, juga tak bisa mengandalkan cengkih yang harganya tak sebukit dulu.

Maka kini ia menyandarkan harapannya pada tire. Tire konon di ekspor ke China dan Jepang untuk diolahย  jadi bahan makanan. Orang-orang kota menamai โ€˜mantanโ€™ gulma itu dengan porang.

Sejak tire punya harga, iaย  jadi girang sebab ย ย tire adalah tumbuhan yang tak ribet pemeliharaannya. Ia bisa membudidayakannya dengan rasa suka cita. Tak perlu dipupuk, tak perlu dipelihara berlebihan. Tanam saja lalu tunggu tumbuh dan panen.

Pun tire tak menarik minat hama seperi babi hutan untuk menyantapnya. Dan yang paling ia sukai dariย  budidaya tire, sebab tak merusak lingkungan. Tire tak perlu di pupuk anorganik yang bisa membuat tanah kurang subur untuk waktu yang lama ke depan.

Dan lainnya tak perlu menebang ย pohon untuk menamannya. Tire bisa tumbuh di bawah naungan pohon besar, di sela-sela pohon cengkih. Di bawah rindangnya pohon kopi.

Hanya dalam waktu satu sampai dua tahun saja tire sudah bisa dipanen. Maka, dua tahun lalu. Ketika musim hujan telah tiba menggantikan kemarau, ia menanam banyak tire.

Tire paling cocok ditanam saat musim hujan. Ia akan tumbuh subur, sesubur bunga basah. Tire akan menghilang jika sedang kemarau

Beraksinya pencuri

Pagi ini ia akan kembali ke kebunnya memanen tire. Semalam, karena tidur lelap ia tak dengar suaraย  orang ribut-ribut. Dari penuturan orang tuanya, orang-orang tumpah ruah ke jalan. Sebab tire Halamuddin digasak pencuri.

Padahal tire itu sudah siap dijual, telah diangkut ke samping rumahnya. Namun, begitu malam hampir menuju larutnya yang sunyi, suara mobil berhenti di depan rumah Halamuddin.

Halamuddin tak langsung membuka pintu, ia mengintip lewat jendela kaca rumahya. Dan dilihatnya tiga orang sedang mengangkut tirenya ke atas mobil.

Ia menelepon saudaranya, sebab pikiran waras masih menggenangi kepalanya. Ia tak ingin mengambil risiko. Keluar rumah saat ada pencuri sama saja mengantar nyawa.

[irp]

Begitu saudaranya mengangkat telepon. Mobil itu melaju pergi. Tiga belas menit kemudian saudaranya yang bergelar haji tiba di rumah adiknya. Dan yang tersisa dari tire itu hanya sebelas biji saja.

Halamuddin ingin meraung, tire itu telah ia kumpulkan selama seminggu. Namun, yang paling membuatnya meluka. Sebab ia kenal dua orang yang mencuri tirenya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: