Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Sebagai Hujan di Tubuhmu

Sebagai Hujan di Tubuhmu   aku ingin tiba di tubuhmu sebagai hujan hujan tiba pada saat tak terduga, seperti kemarin itu saat ibu sedang mengaduk cendol di dapur kayu hujan tumpah jemuran...

Oleh Irhyl R Makkatutu 01 Oct 2022 05:20 2 menit baca

Sebagai Hujan di Tubuhmu

  aku ingin tiba di tubuhmu sebagai hujan hujan tiba pada saat tak terduga, seperti kemarin itu saat ibu sedang mengaduk cendol di dapur kayu hujan tumpah jemuran cengkeh di halaman pun kuyup ibu meninggalkan adukan cendolnya berlari ke halaman mengangkat cengkeh ke dalam rumah napasnya ngos-ngosan dua orang semalam datang ke rumah magrib baru saja pamit mereka datang mempertanyakan hujan kenapa datang saat kemarau? tak ada jawaban dari ibu atau ayah ingin kujawab sebab perubahan iklim tapi, tak keluar suara tertekan kopi, rasanya semakin pahit saja Oktober 2022 [irp]

Salep Gatal

  guru pensiunan itu kini membangun pabrik penyulingan daun cengkeh tepat di pinggir kali yang mengalir ke sawah air mulai menghitam berbusa salju anak-anak riang di kampungnya, salju lahir di kali petani memakai masker dan kaos tangan membajak sawah salep anti gatal diselipkan di kantong celana seusai panen minyak daun cengkeh pensiunan guru itu akan berkeliling kampung memakai mobil bututnya yang berkabung kabut pada knalpotnya senja pada suatu hari di hari kamis hujan tiba dengan manja meluapkan kali air hitam mengalir ke halaman rumah pensiunan guru itu besoknya pensiunan guru itu alpa salat jumat ia sibuk mengolesi salep anti gatal ke seluruh badan cucunya Oktober 2022 [irp]

Di Mata Air Mana Kita Minum Kelak?

  sungai balantieng akan dibendung sawah akan memaut menggantung dirinya pada hujan hujan datang sekali-kali saja seperti pejabat datang lima tahun sekali kemarin saat senja pamit dua lelaki mengetuk pintu mereka meminta mata air kepada ayah "sudah sebulan air tak mengalir ke rumah," keluhnya mata air itu ada di sawah ayah dilema tumbuh di mata tuanya memberikannya, sawah bakal pensiun dini tak memberinya, nurani tak tega "aturlah bagaimana bagusnya," kata ayah dua lelaki itu menyeruput kopinya pelan, pelan sekali air sungai balantieng akan mengalir ke jauh dalam pipa di bawah tanah melewati rumah dua orang lelaki itu melewati sawah-sawah yang mulai berencana pensiun dini. pelan sekali kedua lelaki itu menyeruput kopinya tampaknya sangat pahit "sisakan air untuk sawahku, burung-burung, cacing tanah, dan semua yang butuh air," kata ayah kedua lelaki itu lalu pamit tenggorokannya tampak pahit mengucapkan terima kasih Oktober 2022 [irp]

Pepohonan di Depan Rumahmu

  ada ranting pohon di tenggorokanku berduri-duri aku ingin memotongnya ranting itu telah mengakar ia merampas lidahku mulutku, seluruhku aku mematung saja ranting pohon itu paluti seluruh adaku hilang aku menjelma aku pepohonan di depan rumahmu Kindang, 1 Oktober 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra ekologi #sastra lingkungan #hujan #mata air