Sampah Plastik Meningkat dari Belanja Online dan Delivery Selama PSBB

Klikhijau.com –  Meningkatnya belanja online dan delivery  bisa jadi alasan  lirik lagu  “Di mana-mana hatiku senang," diganti dengan “Di mana-mana ada sampah plastik.” Sstt, jangan ‘ngegas’ itu ha...

Sampah Plastik Meningkat dari Belanja Online dan Delivery Selama PSBB
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com –  Meningkatnya belanja online dan delivery  bisa jadi alasan  lirik lagu  “Di mana-mana hatiku senang," diganti dengan “Di mana-mana ada sampah plastik.”

Sstt, jangan ‘ngegas’ itu hanya tawaran saja melihat fenomena sampah plastik tetap saja meraja. Bahkan saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berlansung. Saat manusia diimbau tetap di rumah. Plastik tetap bebas berkeliaran.

Pada saat PSBB berlangsung, aktivitas belanja masyarakat tidak berhenti.  Justru presentase belanja online dan penggunaan layanan pesan antar (delivery).

Belum lama ini Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI merilis hasil studi terkait ‘Dampak PSBB dan WFH Terhadap Sampah Plastik di kawasan Jabodetabek.

Survei itu dilakukan  via online pada tanggal 20 April-5 Mei 2020. Hasil survei sungguh mengejutkan, rupanya mayoritas warga Jabodetabek melakukan belanja online yang cenderung meningkat.

Peningkatan itu terlihat, jika sebelum PSBB aktivitas belanja warga hanya  1 hingga 5 kali dalam satu bulan.

Namun, selama PSBB dan anjuran bekerja di rumah (WFH) justru meningkat jadi 1 hingga 10 kali.   Begitu pula dengan penggunaan layanan delivery makanan lewat jasa transportasi online.

Aksi nyata masih kurang

Hal yang mengejutkan   96% paket belanjaan dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, bungkus plastik, dan bubble wrap merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan.

Survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut menemukan fakta, di kawasan Jabodetabek, jumlah sampah plastik dari bungkus paket mengungguli jumlah sampah plastik dari kemasan yang dibeli.

Menurut lama resmi LIPI, penelitian tersebut menunjukkan bahwa 60% responden menilai penggunaan bungkus plastik tidak mengurangi risiko terpapar Covid-19.

Penilaian itu  berdasarkan hasil penelitian bahwa virus corona dapat bertahan di permukaan plastik selama tiga hari, yang artinya lebih lama dibanding permukaan lain seperti kardus atau stainless steel.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2