Sagu, Pangan Pengganti Nasi yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan

Klikhijau.com – Sagu telah menjadi bahan utama bagi satu kuliner khas Sulawesi Selatan. Kuliner itu adalah kapurung. Tapi, pada kesempatan ini, kita tak akan membincangkan kapurung. Kita akan membi...

Sagu, Pangan Pengganti Nasi yang Kaya Manfaat bagi Kesehatan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Sagu telah menjadi bahan utama bagi satu kuliner khas Sulawesi Selatan. Kuliner itu adalah kapurung.

Tapi, pada kesempatan ini, kita tak akan membincangkan kapurung. Kita akan membincangkan sagu secara umum.

Pohon penghasil tepung sagu adalah pohon sagu atau rumbia. Tanaman ini  banyak tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Papua, Sulawesi, Maluku, Riau, dan Kalimantan.

Tanaman ini memiliki nama ilmiah Metroxylon sagu merupakan nama ilmiah dari tanaman yang memiliki bentuk menyerupai menyerupai pohon palem ini.

Tempat tumbuhnya tidak bisa sembarangan, harus  di daerah dengan kadar air cukup tinggi seperti rawa-rawa atau tepi sungai. Meski begitu ia memiliki adaptasi kuat untuk tumbuh pada lahan marjinal seperti lahan tergenang air tawar, lahan gambut, dan air payau.

Banyak manfaat bagi kesehatan

Daunnya biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai atap pengganti seng. Atap dari daun pohon ini terbilang ramah lingkungan.

Sementara pada bagian terdalam batangnya, menyimpan satu potensi pangan  yang luar biasa, yakni tepung sagu.

Tepung dari tanaman ini mengandung pati yang tidak dapat dicerna 45 % sehingga akan mengikat racun-racun yang terdapat dalam usus dan mengeluarkan lewat feses .

Itu artinya tepungnya  dapat berfungsi untuk membantu pencernakan. Waktu yang tepat mengkonsumsinya  adalah di pagi hari karena bisa memperbaiki pencernaan.

Tidak hanya itu, menurut penelitian Bambang Hariyanto, (2011) orang yang kerap mengkonsumsi olahan dari tepung ini memiliki gigi dan mata yang relatif baik dan sehat.

Namun, masih manurut Bambang ada kendala bagi mereka yang mengkonsumsinya, sebab dianggap sebagai masyarakat yang berada di kelas dua.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2