Saat Komunitas Literasi Berkebun: Tanam Pohon Tin, Panen Rambutan

Suatu pagi yang cerah, aku bangun dari salah satu ruang yang dapat dibilang ‘kamar tidur’ di Rumah Baca Komunitas di Kawasan sub urban Jogja. Tiga laki-laki sudah bergiat di halaman markas komunitas l...

Saat Komunitas Literasi Berkebun: Tanam Pohon Tin, Panen Rambutan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Suatu pagi yang cerah, aku bangun dari salah satu ruang yang dapat dibilang ‘kamar tidur’ di Rumah Baca Komunitas di Kawasan sub urban Jogja. Tiga laki-laki sudah bergiat di halaman markas komunitas literasi ini. Ada yang menyapu kebun dan ada yang menyiram tanaman yang jumlahnya ratusan di samping kanan kiri rumah dan halaman depan rumah kontrakan.

Bergiat pagi hari dan ‘menghidupi’ tanaman adalah tindakan berani sekaligus tindakan mulia yang patut dilestarikan. Di lain kesempatan, yang berkebun jauh lebih banyak.

Ada yang mencangkok, ada yang membenam biji, mengganti pot yang lebih besar, memindahkan tanaman agar dpaat lebih banyak gizi dari sinar matahari agar lebih paripurna proses fotosintesis, lebih segar daunnya, dan lebih besar buahnya.

Sejak tahun 2014, pegiat komunitas ini sudah membangun kebun yang mandiri, kini dinamai kebun ekoliterasi untuk belajar menanam, mengamati tanaman, membuat eksperimen Teknik bertanam: vertikultur, hidroponik, dan permakultur yang terus diujicobakan.

Walau kadang tak semua hal berhasil, setidaknya dapur pernah hidup dari kebun sendiri dengan segala keterbatasan. Tanah yang tak luas, tetapi dipenuhi semangat menanam dan mencoba berkebun secara lebih baik.

Sering juga pegiat menggunakan tutorial dari internet untuk mencoba Teknik tertentu. Ini Namanya ekoliterasi—bagaimana sumber daya informasi dapat membantu tindakan merawat lingkungan hidup.

Di Jogja, sudah banyak komunitas literasi yang berurusan dengan tanam menamam alias ekoliterasi walau skala berbeda dengan eksistensi kegiatan berkebun/menanam yang pernah dilakukan beberapa pesantren atau komunitas di daerah.

Point pentingnya adalah keberanian belajar, mencoba, membangun habitus ekoliterasi, memperkuat kesadaran akan lingkungan hidup dan konservasi. Keberadaan komunitas literasi berkebun ini sangat penting diapresiasi dan diperluas sebab keberadaan lingkungan dan manusia (literated) itu tak terpisahkan.

Betul itu, bagaimana kita bisa dikatakan makluk yang terpisah dengan tanaman? Dengan air? Udara? Material yang disebut non-human (non-manusia) jelas ada dalam tubuh kita, bahkan di dalam otak manusia.

Jadi, menjadi ecoliterated itu artinya tidak memisahkan antara kehidupan lingkungan dengan manusia seutuhnya. Seorang yang punya daya pengetahuan yang baik ya seharusnya menghargai tabiat alam. Mencintai kehidupan dalam ekosistem hidup yang terus dilakoni tanpa jeda. Kalau alam raya istirahat sebentar saja dari urusan manusia, itu artinya sudah qiamat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2