Rebung Dapat Mengatasi Masalah Kesehatan Modern dan Krisis Pangan Global?

oleh -17 kali dilihat
Rebung, Bahan Makanan Potensial yang Belum Dilirik
Rebun - Foto/May Hokkaido - Pixabay

Klikhijau.com – Beberapa hari lalu, ketika sedang menyiapkan lahan untuk tanaman jagung manis. Secara tidak sengaja, Nasir melihat bambu yang baru tumbuh (rebung). Ia segera meminta parang lalu mengambilnya.

Di pinggir lahan yang disiapkan untuk lahan jagung manis itu, memang ditumbuhi bambu. Rebungnya kerap diambil untuk dijadikan sebagai sayur.

Pada saat musim jagung, rebung adalah pilihan utama untuk dicampurkan saat membuat barobbo–makanan khas Bugis-Makassar yang berbahan dasar jagung muda.

KLIK INI:  Irmawati Daeng So’na Angkat Suara di Festival Hai Mnahat "Pangan Lokal adalah Masa Depan"

Di Desa Kindang dan sekitarnya, rebung cukup mudah ditemukan, sebab masih terdapat banyak rumpun bambu. Hanya saja rebung tidak bisa ditemukan setiap saat. Ada musimnya.

Saat ini, rebung telah dianggap sebagai “makanan tradisional” yang telah kehilangan pamor dan pesona. Tergilas makanan modern yang lebih menggoda. Meski rebung  memiliki sejarah panjang  sebagai “pangan lokal” untuk bahan sayur.

Namun, dari segi manfaat bagi kesehatan dan peluangnya menjadi pangan andalan global, rebung sangat patut diperhitungkan. Mengingat bambu merupakan tumbuhan yang tingkat pertumbuhannya cepat dan mudah beradaptasi.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Bamboo Science mengungkapkan bahwa para peneliti telah menyelesaikan tinjauan komprehensif pertama tentang konsumsi bambu. Mereka  dengan meneliti bukti dari uji coba pada manusia bersamaan dengan studi laboratorium pada sel manusia.

KLIK INI:  Kisah Pertemuan Menakjubkan dengan Katak Hijau yang Mungil

Dengan penelitian lebih lanjut pada manusia, rebung mungkin akan mendapatkan tempat yang lebih luas dalam pola makan global berdasarkan bukti ilmiah, bukan hanya tradisi semata. Apalagi rebung  ditemukan memiliki potensi nutrisi yang menjanjikan.

Banyak kandungan

Secara keseluruhan, sebagaimana dilansir dari Earth bahwa temuan tersebut menunjukkan bahwa rebung, jika disiapkan dengan benar, dapat mendukung keseimbangan metabolisme, fungsi pencernaan, dan ketahanan sel.

Dari sudut pandang nutrisi, rebung menawarkan campuran senyawa bermanfaat yang padat. Kandungan proteinnya tinggi, rendah lemak, dan mengandung serat dalam kadar sedang.

Selain itu, juga menyediakan asam amino, selenium, kalium, dan vitamin seperti tiamin, niasin, vitamin A, vitamin B6, dan vitamin E – menciptakan profil yang mendukung berbagai fungsi biologis.

KLIK INI:  Pangan Lokal, Solusi Atasi Krisis Pangan Akibat Dampak El Nino

Beberapa uji coba pada manusia yang termasuk dalam tinjauan tersebut melaporkan peningkatan kontrol glikemik setelah mengonsumsi rebung.

Kadar gula darah yang lebih stabil memainkan peran sentral dalam pengelolaan diabetes dan stabilitas metabolisme jangka panjang.

“Rebung sudah umum dikonsumsi di beberapa bagian Asia dan memiliki potensi besar untuk menjadi tambahan yang sehat dan berkelanjutan bagi pola makan di seluruh dunia – tetapi harus dipersiapkan dengan benar,” kata Lee Smith, penulis senior studi tersebut.

Smith yang juga  seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Anglia Ruskin (ARU) mngatakan, selain pengaturan kadar gula darah, para peneliti juga mengamati peningkatan profil lipid di antara para peserta yang diteliti.

KLIK INI:  Stunting di Indonesia dan Peran Sumber Pangan Lokal sebagai Solusi

Keseimbangan lipid yang lebih sehat terkait erat dengan pengurangan risiko kardiovaskular, menunjukkan bahwa bambu mungkin memengaruhi berbagai jalur metabolisme daripada hanya satu hasil tunggal.

 Rebung mengandung serat makanan termasuk selulosa, hemiselulosa, dan lignin, yang semuanya mendukung pergerakan pencernaan dan fungsi usus.

“Berbagai manfaat kesehatan yang kami identifikasi, termasuk potensinya untuk mengatasi tantangan kesehatan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar disebabkan oleh kandungan nutrisi bambu dan ekstraknya, yang kaya akan protein, asam amino, karbohidrat, mineral, dan vitamin,” kata Profesor Smith.

Penelitian pada manusia menunjukkan peningkatan yang terukur dalam keteraturan buang air besar setelah mengonsumsinya.

Eksperimen laboratorium memperluas temuan tersebut dengan mengidentifikasi efek probiotik. Hasil ini menunjukkan bahwa bambu dapat membantu mendorong bakteri baik dalam usus, berkontribusi pada lingkungan mikroba yang lebih sehat yang mendukung pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Sebagai makanan super

Konsumsi rebung juga dikaitkan dengan perubahan pada tingkat seluler. Studi pada manusia melaporkan peningkatan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, bersamaan dengan penurunan toksisitas sel dan peningkatan viabilitas sel.

Studi laboratorium memperkuat pengamatan ini dengan menunjukkan sifat antioksidan yang kuat yang membantu membatasi kerusakan yang terkait dengan stres oksidatif.

Terlepas dari potensinya, bambu tidak aman dikonsumsi tanpa persiapan yang tepat. Beberapa spesies mengandung glikosida sianogenik, yang dapat melepaskan sianida jika dimakan mentah.

KLIK INI:  Meski Banyak Manfaat, Kecerdasan Buatan adalah Pedang Bermata Dua bagi Lingkungan

Sebuah penelitian mengidentifikasi senyawa-senyawa yang dapat mengganggu produksi hormon tiroid, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya gondok.

Kedua risiko tersebut dapat dihindari melalui pengolahan yang benar, khususnya dengan merebus rebung terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.

Ulasan tersebut juga mencatat bahwa senyawa bambu dapat menghambat pembentukan furan dan mengurangi kadar akrilamida dalam makanan yang dimasak, menunjukkan peran tambahan dalam meningkatkan keamanan pangan.

“Tinjauan kami menunjukkan potensi rebung sebagai ‘makanan super’ yang potensial, tetapi masih ada celah dalam pengetahuan kita,” kata Profesor Smith.

“Kami hanya menemukan empat studi yang melibatkan partisipan manusia yang memenuhi kriteria kami, jadi uji coba pada manusia berkualitas tinggi tambahan diperlukan sebelum kami dapat membuat rekomendasi yang pasti,” tambahnya

Rebung sudah dikonsumsi di banyak bagian dunia, tetapi kebanyakan orang tidak menganggapnya sebagai makanan yang berhubungan dengan kesehatan.

KLIK INI:  Pilihan Terbaik bagi Semua Pihak, Membiarkan Satwa Liar pada Fitrahnya