Raih Rekor Muri, Kurikulum Mangrove KLHK Dijadikan Instrumen Cinta Lingkungan Sejak Dini

oleh -250 kali dilihat
Raih Rekor Muri, Kurikulum Mangrove KLHK Dijadikan Instrumen Cinta Lingkungan Sejak Dini

Klikhijau.com – Kurikulum Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Tematik Mangrove Dijadikan Instrumen Cinta Lingkungan Sejak Dini meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (Rekor Muri).

Kurikulum ini tersusun atas kontribusi para pihak yang kompeten di bidangnya. Salah satunya adalah Dr. Hendra Gunawan, peneliti utama pada Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, yang berperan sebagai Ketua Tim dan Koordinator Penyusunannya.

Piagam Rekor Muri diserahkan oleh Senior Manager MURI, Yusuf Ngadri kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu dan PT. Pertamina Rafinery Unit (RU) VI Balongan.

Mereka sebagai pihak yang memasukkan kurikulum PLH tematik mangrove di sekolah dasar untuk yang pertama kalinya di Indonesia.

Penyerahan Rekor Muri ini digelar dalam rangkaian kegiatan Coastal Clean Up Pantai Kejawanan, Cirebon, serta disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, Jum’at (15 Februari 2019) lalu.

KLIK INI:  Selain Sinergitas Tingkat Tapak, Peran 6 Ekoregion Sangat Menentukan Kinerja LHK Mendatang

“Tadi kita juga menyaksikan, bagaimana inovasi muncul di Indramayu dengan buku kurikulum. Hal-hal seperti ini sungguh sangat membanggakan,” kata Menteri Siti dalam sambutannya.

Keberhasilan Indramayu meraih Rekor Muri sangat diapresiasi oleh Siti. Dari peristiwa sulit yang dialami Indramayu, kemudian dapat dijadikan pembelajaran serta diwujudkan dalam kurikulum, “Ini kan keren banget!” pujinya.

Kurikulum tematik mangrove

Soal mangrove, lanjut Siti, tahun ini sangat penting menjadi program utamanya juga kementerian.

Oleh sebab itu kehadiran kurikulum tematik mangrove ini sangat penting bagi Indonesia. Karena ini adalah instrumen dan sarana pendidikan.

“Artinya kita membangun generasi muda kita yang memahami lingkungan dan cinta lingkungan sejak dini,” pungkasnya.

Saat ditemui di sela-sela acara, Hendra menjelaskan bahwa keprihatinan atas semakin luasnya kerusakan hutan mangrove di Indonesia melatarbelakangi penyusunan kurikulum ini.

Baginya, diperlukan lebih dari sekadar gerakan menanam. Menumbuhkan kesadaran dan memelihara semangat konservasi alam, terutama lintas generasi, adalah hal sangat penting yang harus dilakukan.

“Hanya melalui kurikulum, kita bisa membangun karakter cinta mangrove secara terstruktur dan melekat sepanjang hidup,” tegas Hendra.

KLIK INI:  Jika ke Soppeng, Ini Wisata Alam yang Harus Dikunjungi dan Bersiaplah Jatuh Cinta

Kurikulum PLH tematik mangrove ini secara efektif mulai diberlakukan pada tahun pelajaran 2017/2018 pada 11 SD se-Kabupaten Indramayu, selanjutnya meluas mencakup 26 SD pada 2018/2019.

Pada saat ini kurikulum diterapkan mulai SD kelas 4, 5 dan 6. Dipilihnya tingkat SD karena pendidikan dasar akan menjadi pondasi bagi anak-anak ke depannya.

Diharapkan kelak, mereka dapat meneruskan perjuangan melestarikan lingkungan di Indramayu.

“Saya dan tim penyusun berharap, kedepan, PLH tematik mangrove ini dapat diajarkan di semua sekolah di pesisir Indonesia. Dan ini merupakan juga salah satu upaya mitigasi bencana tsunami. Karena di dalam buku ini ada bab mitigasi bencana di wilayah pesisir,” pungkas Hendra.

Pengakuan dunia

Kepala Pusat Litbang Hutan (P3H), Kirsfianti Ginoga, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, bersyukur bahwa aplikasi hasil riset dan inovasi mangrove karya peneliti BLI (Dr Hendra Gunawan), telah mendapatkan pengakuan dunia dengan tercatat di MURI.

“Ini semakin memacu BLI untuk terus mereplikasi dan mengaplikasikan inovatif solution hasil litbang mangrove dengan menggalang kerjasama di tingkat lokal, nasional dan global, termasuk penguatan Pusat Riset Mangrove Karangsong,” jelasnya.

Selama ini, menurut Kirsfianti, BLI telah banyak melakukan kegiatan riset mangrove. Berbagai aspek seperti konservasi, sosial ekonomi dan budaya dan aspek lingkungan, telah diteliti.

Termasuk juga penguatan kapasitas dan edukasi pada generasi muda untuk turut melestarikan mangrove dan ekosistemnya sebagai wujud cinta lingkungan.

Sejak 2017, Hendra dan tim telah menyusun buku-buku penunjang mencakup buku kompetensi inti dan dasar, buku teks, buku LKS serta buku panduan guru. Seluruhnya ada 10 buku.

KLIK INI:  Ciptakan Rompi Anti Peluru dari Gebang, Armour Mike Harumkan SMAN 3 Denpasar

Tim terdiri atas peneliti dan widyaiswara KLHK; peneliti IPB, ITB dan Wetland internasional; serta para guru Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu dan PT. Pertamina Unit VI Balongan.

Selanjutnya, tim penyusun juga terlibat dalam melatih guru-guru pengampu PLH tematik mangrove.

Kurikulum ini disusun secara bottom up, dari keinginan dan komitmen Pemerintah Kabupaten Indramayu serta masyarakat Indramayu sendiri.

PT. Pertamina Unit VI Balongan mendukung kegiatan ini sebagai kontribusi nyata kepedulian lingkungan hidup sekitarnya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Upaya melindungi hasil publikasi

Selain itu, pada beberapa waktu lalu, dalam upaya melindungi hasil publikasi (buku), tiga judul buku yang diterbitkan Pusat Litbang Hutan kembali mendapatkan Sertifikat Surat Pencatatan Ciptaan yang dikeluarkan oleh Ditjen HKI, kementerian Hukum dan HAM RI.

Ketiga judul buku IPTEK tersebut adalah:

1. Inventarisasi Nasional Emisi dan Serapan Gas Rumah Kaca di Hutan dan Lahan Gambut Indonesia (penulis: Haruni Krisnawati, Rinaldi Imanuddin, Wahyu Catur Adinugroho, Silver Hutabarat)

2. Metode Standar untuk Pendugaan Emisi Gas Rumah Kaca dari Hutan dan Lahan Gambut di Indonesia Versi I (penulis: Haruni Krisnawati, Rinaldi Imanuddin, Wahyu Catur Adinugroho, Silver Hutabarat)

3. Metode Standar untuk Pendugaan Emisi Gas Rumah Kaca dari Hutan dan Lahan Gambut di Indonesia Versi II (penulis: Haruni Krisnawati, Rinaldi Imanuddin, Wahyu Catur Adinugroho, Silver Hutabarat).

Diharapkan dengan semakin meningkatnya sertifikat Surat Pencatatan Ciptaan yang diperoleh Pusat Litbang Hutan, dapat memberikan tambahan semangat menulis bagi peneliti lingkup Pusat Litbang Hutan.

KLIK INI:  Penataan Lingkungan dan Kehutanan Indonesia Dapat Pujian dari Sekjen ASEAN