Puncak Tinambung: Kisah Kemanusiaan dan Gotong Royong di Jantung Gowa

Klikhijau.com - Puncak Tinambung, Desa Bissoloro, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Nama ini mungkin belum setenar destinasi wisata lain, namun pada 28-29 Juni 2025 lalu, suasana sejuk di puncakny...

Puncak Tinambung: Kisah Kemanusiaan dan Gotong Royong di Jantung Gowa
Bacakan Artikel

Senada dengan itu, ibu Nur Muhlisa, salah satu orang tua peserta, juga menyampaikan rasa syukurnya, melihat anak-anaknya mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tanpa beban biaya.

"Melihat antusiasme anak-anak dan orang tua membuat kami semakin termotivasi. Semoga program ini membawa manfaat jangka panjang," pungkas Reski Ade Putra Bialangi, optimis akan dampak positif yang akan berkesinambungan.

Semangat Gotong Royong Hadapi Tantangan: Harmoni di Balik Keterbatasan

Kegiatan dimulai tepat pukul 08.00 WITA dengan pembukaan resmi yang dihadiri oleh Kepala Desa Bissoloro dan perwakilan tim relawan. Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti momen tersebut, menandai dimulainya sebuah babak baru dalam upaya peningkatan kesehatan di Bissoloro.

Afriyani Kamaluddin, Ketua Panitia Sirkumsisi, menjelaskan bahwa proses sirkumsisi berlangsung sangat tertib dengan sistem antrean yang teratur. Setiap anak didampingi oleh orang tua atau wali mereka, memastikan kenyamanan dan dukungan moral selama proses berlangsung.

"Tim medis bekerja dengan profesionalisme tinggi, memastikan setiap tindakan dilakukan sesuai standar medis yang ketat," sambungnya, menegaskan kualitas layanan yang diberikan.

Yang patut diacungi jempol adalah semangat gotong royong masyarakat setempat yang begitu kuat. Para Ibu-ibu PKK secara bergantian menyiapkan makanan dan minuman lezat untuk para peserta dan relawan.

Mereka bahkan menamai kegiatan konsumsi ini dengan julukan hangat yang menggemaskan: "Operasi Ngenyangin Warga". Para bapak-bapak tidak ketinggalan, mereka turut membantu mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan area kegiatan, menciptakan lingkungan yang kondusif dan aman bagi semua.

Namun, seperti halnya perjalanan mulia lainnya, kegiatan ini tidak luput dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah akses jalan menuju Desa Bissoloro yang masih berupa jalan berbatu dan berliku.

Kondisi ini menuntut kendaraan khusus untuk mengangkut peralatan medis yang sensitif dan logistik dalam jumlah besar. Keterbatasan fasilitas di lokasi dan cuaca pegunungan yang tak menentu – bisa tiba-tiba hujan atau berkabut – juga menjadi perhatian serius.

Meski demikian, berkat persiapan matang dan kerja sama solid antara relawan dan masyarakat lokal, termasuk Ismail dan Irfan (Anggota Tim SDM Relawan Gesit Makassar) yang gigih, semua kendala dapat diatasi dengan baik. Semangat pantang menyerah dan keinginan untuk saling membantu menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi setiap rintangan.

Membangun Kapasitas Lokal dan Dampak Jangka Panjang: Warisan untuk Bissoloro

Salah satu hasil penting dan paling signifikan dari "Volunteer Camp" ini adalah terbentuknya Tim Relawan Kesehatan Desa Bissoloro. Tim ini terdiri dari warga lokal yang telah mengikuti pelatihan intensif selama kamp berlangsung. Mereka kini siap menjadi garda terdepan dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat di desa mereka sendiri.

Para relawan kesehatan desa ini tidak hanya dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga diberikan kit pertolongan pertama yang esensial.

Mereka akan berperan sebagai penghubung vital dengan puskesmas terdekat, memastikan bahwa program-program kesehatan selanjutnya dapat berjalan lancar dan informasi kesehatan dapat tersampaikan dengan efektif kepada seluruh warga.

Rencana tindak lanjut berupa kunjungan evaluasi berkala dan pelatihan lanjutan juga telah disusun, menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan program ini.

Dr. H. Syamsu Rizal Marzuki Ibrahim, Anggota DPR RI, Komisi I dan Ketua PMI Kota Makassar, turut mengapresiasi kegiatan ini.

"Program seperti ini sangat penting untuk daerah terpencil. Pemerintah dan masyarakat harus terus bersinergi untuk meningkatkan kualitas kesehatan," ujarnya, menekankan pentingnya kolaborasi multisektoral.

"Volunteer Camp" sirkumsisi dan kelas relawan di Desa Bissoloro ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian dan kerja sama dapat mewujudkan perubahan positif yang transformatif.

Program ini tidak hanya sekadar memberikan layanan kesehatan gratis yang sangat dibutuhkan, tetapi juga secara fundamental membangun kapasitas masyarakat lokal untuk mandiri dalam mengelola kesehatan komunitasnya. Ini adalah investasi jangka panjang dalam kesehatan dan kesejahteraan.

Keberhasilan program di Puncak Tinambung ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk direplikasi di desa-desa lain, terutama di daerah terpencil yang masih memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan.

Semangat gotong royong dan kepedulian sesama yang ditunjukkan selama kegiatan ini bukan hanya sekadar cerita, melainkan modal sosial yang tak ternilai harganya untuk pembangunan desa yang berkelanjutan. Bissoloro kini memiliki harapan baru, sebuah harapan yang tumbuh dari benih kepedulian di kaki bukit Gowa.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2