Puisi Tentang Lingkungan dari 5 Penyair Dunia Paling Menyentuh

Klikhijau.com – Sesungguhnya para penyair tidak bisa lepas dari lingkungannya. Karenanya banyak penyair yang menulis puisi tentang lingkungan. Kata-kata yang tersusun dalam puisi memiliki daya magi...

Puisi Tentang Lingkungan dari 5 Penyair Dunia Paling Menyentuh
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Sesungguhnya para penyair tidak bisa lepas dari lingkungannya. Karenanya banyak penyair yang menulis puisi tentang lingkungan.

Kata-kata yang tersusun dalam puisi memiliki daya magis tersendiri. Para penyair memilih diksi penuh kejutan. Menggunakan estetika bahasa yang menyentuh.

Beberapa penyair dunia banyak menggunakan diksi-diksi alam dalam puisinya. Selain sebagai metafora, penggunaan diksi alam juga mengandung nilai estetika yang kuat.

Berikut Klikhijau.com telah merangkum lima puisi tentang lingkungan dari penyair dunia. Puisi tentang lingkungan yang mereka tulis jika diselami lebih dalam, bisa melahirkan efek sadar lingkungan. Minimal sadar dengan cara menikmati keindahannya dan tidak merusaknya:



  • Pada Sebuah Senja di Langitku (Pablo Neruda)



Pablo Neruda, lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904 – meninggal 23 September 1973 pada umur 69 tahun. Nama aslinya Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto.

Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Ia banyak menulis tentang alam dan laut. Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.

 

Burung

 

Hal ini dilepaskan dari satu burung ke burung lainnya,
seluruh karunia hari.
Hari pun pergi dari satu seruling ke seruling lainnya,
pergi berpakaian vegetasi,
dalam penerbangan yang membuka terowongan
yang akan dilintasi angin menderu
tempat burung-burung memecahkan
udara padat biru –
dan di sana, malam pun kembali.

Ketika kembali aku dari banyak perjalanan,
aku pun istirah dan hijau
antara matahari dan geografi –
kusaksikan bagaimana sayap bekerja,
bagaimana parfum ditransmisi
oleh telegraf berbulu,
dan dari atas kusaksikan jalan,
mata air dan atap-atap genteng,
para nelayan dalam pelelangan mereka,
celana-celana busa;
kusaksikan semua itu dari atas langit hijauku.

Tiada kupunya alfabet lebih
selain beburung walet dalam kawanan mereka,
betapa mungil, kemilau air
dari burung mungil di atas kobaran api
yang menari di luar serbuk sari.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2