“Ramuan di Segitiga Wallacea” dan Tradisi Penyembuhan dari Tumbuhan Liar

Klikhijau.com - Project menulis bersama yang dilaksanakaan Yayasan Makassar Biennale  dengan tema “Sekapur Sirih” berlangsung di 2020 lalu melahirkan sebuah buku berjudul “Ramuan di Segitiga Wallacea”...

“Ramuan di Segitiga Wallacea” dan Tradisi Penyembuhan dari Tumbuhan Liar
Bacakan Artikel
Anjar S. Masiga

Pegiat Lingkungan. Ia Aktif di Komunitas Kolaborasi Biru

Di Manggarai ada Rampapake, tumbuhan sejenis bunga yang sering dijumpai di hutan tapi juga bisa ditanam sendiri.  Daunnya dipercaya dapat mengobatii bekas luka dan juga untuk luka dalam perempuan, pasca melahirkan.

Penggunaannya dengan menumbuk daun bersama beras yang telah direndam lalu dikeringkan. Setelah pengeringan, ditumbuk kembali dan ditapis untuk mendapatkan serbuknya. Dilarutkan ke dalam air hangat dan diminum. Penggunaan rutin dapat jangka waktu yang panjang juga dapat mengobati ginjal.

Dalam bahasa Manggarai rempa berarti cakar sedangkan pake berarti katak. Bentuk daun dianggap mirip dengan jari katak. Konon memilikii kandongan penisilin yang sering digunakan sebagai anti biotik yang mengobati berbagai masalah infeksi bakteri .

Di Bulukumba juga sejumlah tabib menggunakan rumput liar ataupun tanaman yang mudah dijumpai untuk pengobatan. Tanaman tersebut ada lantana camara, angguni, kelor, jarak, kacang kratok, bawang merah, bandotan, kopasanda, dan lainnya.

Di Makassar, warga yang memiliki kitab herbal keluarga  yang dimiliki secara turun temurun. Berbagai tumbuhan untuk bahan obat ditanam di pekarangannya, seperti sereh, cocor bebek, bawang dayak, jahe, binahong, dan beberapa tumbuhan lainnya.  Dulu orang menyebut pengobatan tradisional dengan pengobatan kampung karena bahannya mudah dijumpai.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2