Pot Nurani

Pot tersebut telah turun-temurun. Letaknya di sebelah timur pintu utama rumahku yang bertaman yang tak terlalu luas.  Letaknya tak pernah berubah. Mungkin nenek dari nenekku meletakkannya di sebelah t...

Pot Nurani
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Pot tersebut telah turun-temurun. Letaknya di sebelah timur pintu utama rumahku yang bertaman yang tak terlalu luas.  Letaknya tak pernah berubah. Mungkin nenek dari nenekku meletakkannya di sebelah timur  agar mudah mengingatkan cucu hingga cicitnya kalau keluarganya menganut adat ketimuran.

Ada aroma mistik terkandung di dalamnya, kalau tak ada bunga yang bisa tumbuh. Nenek hingga ibuku telah berulang kali mencoba menanaminya bunga, mulai bunga kamboja, bunga sepatu, bunga tulib, bunga kertas hingga bunga yang tak kutahu lagi namanya.

Namun bunga-bunga itu benar-benar tak tumbuh lama. Mungkin pot tersebut ditanduskan sepi, hingga bunga yang ditanam hanya menguncup lalu meninggalkan aroma tangis yang liar. Mungkin karenanya, hingga tak ada lagi yang mengurusi pot itu. Dan tak ada juga yang berani memindahkannya. Mungkin takut kualat, karena benda itu telah bertahun-tahun di depan rumah.

Sebagai generasi yang datang belakang. Aku kurang percaya mitos kalau pot tersebut tak bisa ditumbuhi bunga. Maka aku mulai membersihkannya, mengganti tanahnya, dan mencatnya. Aku ingin kembali menanaminya bunga.

“Tak perlu menanam bunga di pot itu!” pinta ayah, “Itu hanya akan lahirkan kecewa,” katanya lagi. Aku tetap asyik menanaminya bunga aster, bunga anggota suku Asteraceae yang indah, mirip bunga matahari.
"Bunga ini akan menguncup Ayah, berputik dan mekar, lalu melahirkan keriangan, kesederhanaan, dan kegembiraan. Aroma bunga ini akan mengundang berbagai jenis kupu-kupu bertamu,” kataku sok tahu.

“Semoga saja bisa tumbuh,” ucap ayah memberi harapan sambil beranjak pergi. Setelah bunga tersebut kutanam, waktu terasa lebih lambat bergulir. Ada degup dan rasa tak sabar ingin melihatnya tumbuh. Namun beberapa hari kemudian bibit bunga aster yang kutanam dimakan ayam.

Aku geram, namun aku kembali mengganti bibit tersebut, kemudian memagarinya dengan bambu. Ibu dan ayahku hanya tertawa mendengar mendengar kegagalanku.

***

Kegagalan itu menjadi jembatan kegagalanku berikutnya. Berkali-kali aku mengganti jenis bunganya. Namun tak pernah ada yang bisa tumbuh. Berkali-kali pula aku ganti tanahnya, bahkan pupuk urea hingga pupuk kandang pun telah kugunakan menyuburkan tanahnya. Tapi tetap saja bunga-bunga  itu layu tragis. Paling banter hanya putiknya  mengintip sebentar, lalu gugur karena daunnya kekuningan, batangnya seperti para penderita busung lapar.

Aku selalu ingin memindahkan pot tersebut ke sebelah barat pintu utama rumahku, tapi ibu dan ayah selalu melarang, katanya itu tanda mata dari leluhur.

"Berhentilah menanam bunga di pot itu!” kali ini ibu yang memintaku.

“Memang ada apa dengan pot itu bu?” Tanyaku penasaran.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2