Pot Nurani

Pot tersebut telah turun-temurun. Letaknya di sebelah timur pintu utama rumahku yang bertaman yang tak terlalu luas.  Letaknya tak pernah berubah. Mungkin nenek dari nenekku meletakkannya di sebelah t...

Pot Nurani
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

“Nenek dari nenekmu, menamai pot itu pot nurani, ibu tak mengerti kenapa menamainya demikian, pot itu dulu dihiasai berbagai jenis bunga, memang sulit dipercaya pot sekecil itu mampu menampung ribuan bunga dari berbagai spesies. Hingga suatu musim, banyak orang datang memetiknya, mengambil bibitnya dengan paksa, bahkan pot tersebut jadi rebutan. Orang-orang juga berlomba menanam bunga di pot itu untuk  membuat wangi rumahnya sendiri, juga banyak orang yang menjual nama pot itu untuk mendapatkan bibit bunga yang unggul, keadaan itu berlangsung cukup lama, bahkan pernah memakan korban jiwa.  Mungkin karena itulah, leluhur kita mengutuk pot itu agar tidak bisa lagi ditumbuhi bunga,” terang ibu panjang lebar.

Setelah mendengar penjelasan Ibu, aku mulai sedikit percaya  mitos  pot itu benar adanya, sebab tak ada bunga yang bisa menaklukkannya.  Yang ada, bunga di pot tersebut hanya menghitung waktu untuk ”mati." Namun bukannya aku berhenti. Aku kian penasaran dan ingin buktikan kalau pasti ada salah satu bunga yang bisa tumbuh di pot nurani tersebut.

***

Suatu hari aku menanam bunga kenanga, bunga yang sebenarnya  tidak cocok ditanam di pot, karena pohonnya besar, lebih cocok ditanam sebagai tanaman pagar. Tapi tak ada salahnya mencoba, aku menanam hasil cangkokan. Hasilnya, seminggu kemudian bunga itu layu. Tak ada tanda-tanda kehidupan lagi dalam tubuhnya. Aku kemudian mencabutnya.

Sejak itu, aku mulai memikirkan permintaan orang tuaku. Mungkin mereka benar, tak ada lagi  bunga yang bisa tumbuh lama di pot nurani tersebut. Aku berniat jeda sejenak menanam bunga, maka aku kemudian kembali menggarap tanah yang ada di belakang rumah. Tanahnya kehitaman dan cukup subur.

Semua jenis tumbuhan bisa tumbuh di sana ,  tapi aku  tak berniat menanaminya bunga. Aku ingin menanaminya sayur sayuran, tapi sayur-sayuran juga ada yang berbunga. Ooo tidak, itu tak masuk hitunganku karena yang akan kuanggap bunga hanyalah yang bisa tumbuh di pot nurani tersebut yang jadi warisan leluhurku.

Hanya tak pernah kumengerti, kenapa pot itu tak bisa ditumbuhi bunga? Padahal tanahnya kuambil dari tanah pilihan, seperti tanah yang dipilih Tuhan untuk menciptkan Adam. Baca-baca penyubur tanaman yang kutarekat dari kakekku juga tak mempan. Setiap bunga yang kutanam tetap saja keropos hingga akhirnya mati, menyisakan batangnya yang kering.

***

Rumahku tak begitu luas, hanya punya tiga kamar, satu kamar mandi  yang terletak di pojok kanan dekat dapur. Dua kamar tidur, satu ditempati orang tuaku dan satunya kutempati bersama adikku. Namun, cukup luas kurasa karena kami hanya tinggal berempat, adikku  jarang pulang ke rumah. Ia lebih suka tinggal di kampusnya, menjadi seorang aktivis. Pulang hanya ganti baju dan mencuci. Setelah itu  kabur lagi. Tapi aku melarangnya berdemo. Apalagi kalau berdemo di jalan.

Adikku sering bertanya kenapa aku melarangnya berdemo di jalan? Tak kujawab, aku hanya memperdengarkan rekaman dari tape recorderku. Ia terdiam setelah mendengar beberapa orang yang berkomentar tak menyetujui aksi demo di jalan. Suara itu bukan suara pejabat yang sering didemo. Tapi suara rakyat kecil yang tiap hari menggunakan jasa pete-pete, becak, ojek atau jalan kaki beraktivitas. Mencari penyambung nafas untuknya dan keluarganya.

Namun, jika macet karena demo, maka pendapatan mereka akan berkurang, bisa jadi mereka akan terlambat sampai tujuan. Jika itu terjadi, maka kehidupannya akan layu, meranggas seperti bunga yang sering kutanam di pot nurani sebelum kupu-kupu mengecup mesra kelopaknya. Sebelum aromanya memanjakan indera penciuman.

Dan adikku  mematuhi laranganku.  Mungkin karena ia kasihan pada orang-orang yang ia perjuangkan,  orang-orang tersebut juga tertindas karena terhimpit kemacetan. Aku hanya menyarankan agar ia  menulis, karena para pejabat yang sering dikritiki pastilah orang yang senang membaca.

Ia menyanggupinya, hingga suatu hari yang petang adikku datang, di tangannya ada koran yang memuat tulisannya. Dan sebagai rasa terima kasihnya padaku, ia memberiku bunga, katanya bunga itu ia dapat di puncak Bawakaraeng. Tapi bukan edelweiss. Bunga tersebut  baru pertama kali kulihat, tak kutahu dari spesies mana? Bunganya merah muda bercampur putih bersih, ada renda-renda kecil seperti batik di pinggrinya. Batangnya ditumbuhi duri yang halus. Sangat indah.

"Jangan, Kak! Nanti bunganya mati jika ditanam  di pot sialan itu," kata adikku yang diamini kedua orang tua kami.

“Akan kuanggap bunga jika ia bisa tumbuh di pot nurani ini," kataku sambil menanamnya tanpa pikir panjang, bahkan baca-baca pemberian kakek untuk menyuburkan tanaman pun lupa kubaca.  Bunga tersebut kutanam bulan lalu. Aku menamainya bunga LAYU, karena hingga kini daun dan batangnya masih layu, namun tidak mati. Ia tetap mewangi..

Sekarang aku   dumba’-dumba’ menanti  bunga itu bisa mekaran.

Dari kumcer: Lelaki Gerimis

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2