Perubahan Iklim Jadi “Tersangka” pada Kebarakan Los Angeles

Klikhijau.com –Kobaran api yang melanda Los Angeles pada bulan Januari lalu sangat menggemparkan. Berbagai spekulasi tentang penyebabnya bertebaran. Namun, ada satu yang patut jadi “tersangka”, yakni...

Perubahan Iklim Jadi “Tersangka” pada Kebarakan Los Angeles
Bacakan Artikel

Klikhijau.com –Kobaran api yang melanda Los Angeles pada bulan Januari lalu sangat menggemparkan. Berbagai spekulasi tentang penyebabnya bertebaran. Namun, ada satu yang patut jadi “tersangka”, yakni perubahan iklim.

Kedahsyatan kebakaran tersebut, menurut temuan studi dari dari World Weather Attribution sangat mungkin terjadi akibat perubahan iklim.

Studi tersebut mengungkapkan kondisi yang sangat panas dan kering yang menyebabkan kebakaran terjadi sekitar 35% lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim yang disebabkan manusia.

Menurut peneliti dengan curah hujan yang rendah menyebabkan 2,4 kali lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim, sehingga vegetasi mengalami kekeringan. Akibatnya risiko kebakaran meningkat.

"Dengan menggunakan beberapa metode dan bukti, penelitian ini mengonfirmasi bahwa perubahan iklim membuat kebakaran hutan dahsyat di Los Angeles lebih mungkin terjadi," kata Theo Keeping, peneliti kebakaran hutan di Leverhulme Centre for Wildfires di Imperial College London dikutip dari Ecowatch.

“Setiap kenaikan satu derajat pemanasan, peluang terjadinya kondisi yang sangat kering dan mudah terbakar di sekitar kota LA akan semakin tinggi,” lanjutnya.

Para peneliti menggunakan data cuaca gabungan dengan model komputer untuk menganalisis seberapa besar faktor perubahan iklim berperan dalam kebakaran tersebut, membandingkan iklim pra-industri dengan iklim yang lebih modern sekitar 1,3°C di atas garis dasar tersebut.

Mereka juga menggunakan Indeks Cuaca Kebakaran, yang “mempertimbangkan kondisi panas, kering, dan berangin yang memicu kebakaran hutan,” dan menganalisis lebih lanjut total curah hujan dari Oktober hingga Desember, yang biasanya menandai akhir musim kebakaran, dan menggunakan kode kekeringan untuk menentukan bagaimana durasi musim kebakaran berubah di wilayah tersebut.

Tak ada hujan musim gugur

Para peneliti menemukan bahwa kondisi yang memicu kebakaran diperkirakan terjadi sekitar sekali setiap 17 tahun, yang merupakan peningkatan sebesar 35% dibandingkan dengan iklim pra-industri. Indeks Cuaca Kebakaran juga ditemukan 6% lebih intens dibandingkan dengan lingkungan tanpa perubahan iklim, yang telah meningkat secara eksponensial dalam beberapa tahun terakhir.

John Abatzoglou, profesor klimatologi di Universitas California Merced mengatakan, hujan musim gugur biasanya meredam bahan bakar, sehingga menghambat penyebaran api, tetapi berbeda dengan dua tahun sebelumnya, tahun 2024 tidak terjadi hujan musim gugur.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2