Pernah Dianggap Punah, 6 Satwa Ini Hidup Kembali di Habitatnya

Klikhijau.com – Keberadaan satwa di habitatnya memang terus mengalami ancaman karena beragam faktor. Penyebab utama kepunahan satwa adalah perubahan iklim dan kerusakan habitatnya. Simak penyebab lain...

Pernah Dianggap Punah, 6 Satwa Ini Hidup Kembali di Habitatnya
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Keberadaan satwa di habitatnya memang terus mengalami ancaman karena beragam faktor. Penyebab utama kepunahan satwa adalah perubahan iklim dan kerusakan habitatnya. Simak penyebab lainnya lebih rinci di SINI!

Fakta menunjukkan bahwa setiap waktu, ada saja spesies yang lenyap dan tersisih dari habitatnya. Meski setiap waktu para peneliti juga kerap mengabarkan berita gembira tentang temuan spesies baru.

Apapun itu, kepunahan satwa adalah kabar buruk bagi ekosistem dan lingkungan. Kepunahan itu memengaruhi keseimbangan ekosistem dan secara luas akan berdampak pada kehidupan manusia dan lingkungan.

Dilansir Kompas.com merujuk data dari Sciencemag, ada lebih dari 300 jenis mamalia, burung, reptil, dan amfibi telah punah sejak tahun 1500 hingga 2016. Jumlah ini tentu mencemaskan dan berpotensi terus meningkat di tengah semakin maraknya kerusakan lahan.

Meski begitu, ada kabar gembira belum lama ini yakni tentang kepulangan satwa yang awalnya sudah dianggap punah. Apa saja satwa yang hidup kembali di habitatnya ini, simak daftarnya:



  1. Bunglon Chapman



Bunglon kerdil Chapman pernah dikabarkan lenyap pada 2014 di habitatnya di perbukitan Malawi. Kini, Bunglon Chapman ditemukan kembali berkeliaran di habitanya.

Satwa dengan ukuran sekira 5,5 sentimeter ini pertama kali diidentifikasi oleh Colin Tilbury pada 1992 sebagai satu bunglon paling langka di dunia.

Risiko kepunahan bunglon dinyatakan sangat tinggi yakni rata-rata 15 persen untuk ordo reptil, dengan 34 persen spesies bunglon dinyatakan terancam dan 18 persen masuk kategori hampir terancam.



  1. Tikus Djoongari



Tikus Djoongari terakhir kali dijumpai di barat daya Australia Barat hingga New South Wales pada 1857. Sudah cukup lama yah, sekitar 150 tahun lamanya dan nyaris saja hilang dalam catatan dan ingatan.

Ekspansi lahan pertanian menjadi satu faktor lenyapnya spesies tikus langka ini. Para ahli kini menemukan kembali jejaknya.

Ahli biologi evolusi Australian National University, Emily Roycroft mengatakan penemuan spesies ini adalah kabar gembira.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2