Menuai Sampah dalam Hujan

Sumur Ayah   orang-orang bertanya ke mana sumur di kebun ayah menghilang? aku berlari ke rumah berteriak memanggil ayah dari luar ayah keluar, mendongak saja di pintu ada apa? tany...

Menuai Sampah dalam Hujan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

aku berlari menemui orang-orang yang bertanya
sumur itu hilang di tangan manusia, kataku

orang-orang bubar sambil tepuk tangan

Kindang, Agustus 2022

Kepada Pembuat Gula Aren


 

pagi tiba tergesa di matamu
bergegas kau dalam gigil
terobos kabut dalam gerimis

di atas tebing
dua puluh tujuh meter dari sungai
kau panjati sebatang tangga bambu
yang bersandar sekadarnya
di batang pohon aren

anak tangga dari batang kopi licin itu
kau pijaki, demi manisnya kehidupan
pada mimpi merah gula aren

hidup, ruang pertarungan
masa depan menanti dan menantang

di atas pohon aren, kau menatap sungai
kehidupan mengalir jauh dari saku
nira menetes perlahan
tuang diri dalam boda'
kehidupan kau rayakan pada tetesannya

di tungku
kayu-kayu besar dilahap api

tak ada libur bagimu
pagi dan petang
boda’ mengisi dirinya dengan nira

wajan menganga
api menjilat-jilat
kayu bakar menjelma abu

keringatmu
berubah nira

Kindang, Agustus 2022

Bangau itu Terbang Sendiri


 

gerimis tiba
kuyupkan apa saja
selain sepi di matamu

berkali-kali
tak sekali saja
bangau itu terbang sendiri
sepi merimbun
kepakan sayap melunglai

bangau itu
akan bertengger di pucuk pohon cengkeh
menatap segala arah

sepi tanak di mata liarnya

sejak senapan angin dipegang anak-anak
bangau terbang pada mautnya

sawah tak lagi memutih
sepi dari kepakannya

kini, seekor saja
beterbangan ke sana sini
tebarkan pesona
tebar sepi
sebar duka

ayah
burung apa itu?

seorang anak kecil bertanya
itu bangau

mana temannya
kenapa sendiri

si ayah garuk kepala
lalu memutar youtube

membiarkan anaknya
menonton bangau beterbangan
berlomba-lomba

anak itu girang
si ayah senang

Kindang, Agustus 2022

Menuai Sampah dalam Hujan


 

ia menatap keluar jendela
resah merimbun di matanya

semalam hujan
selokan depan rumah meluap

sampah-sampah berpindah ke sawahnya
menimbun padi
yang ditanamnya tiga hari lalu

gerimis masih menyisa
disesapnya kopi meninggalkan ampas

ia kembali menatap keluar jendela
sampah di sawahnya melambai-lambai

tak semua yang ditanam akan dituai
aku menanam padi
aku menuai sampah, bisiknya pelan, pelan sekali.

Kindang, Agustus 2022

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2