Mengintip Serunya Kehidupan Babirusa di Nantu

Klikhijau.com - Tengoklah babirusa yang bersuka ria di habitat alaminya. Bersantap, bermain, berkubang, hingga berlumpur tanpa terganggu. Sungguh menggemaskan. Video Kompas.id yang berdurasi lebih dar...

Mengintip Serunya Kehidupan Babirusa di Nantu
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Tengoklah babirusa yang bersuka ria di habitat alaminya. Bersantap, bermain, berkubang, hingga berlumpur tanpa terganggu. Sungguh menggemaskan. Video Kompas.id yang berdurasi lebih dari 7 menit itu menggambarkan kehidupannya yang tentram.

Hidup tentram di salah satu sudut Suaka Margasatwa Nantu, BKSDA Sulawesi Utara. Suaka margasatwa ini terletak di Gorontalo. Habitat alami sejumlah satwa endemik.

Adudu, salah satu titik kubangan favorit pemilik nama latin: Babyrousa babyrussa ini berpesta. Mereka  menyukai Adudu. Adudu menyedikan kebutuhan mereka. Mineral alami. Mineral yang mengandung zat besi, sodium, magnesium, kalsium, dan sulfat.

Adalah Dr. Lynn Marion Clayton, peneliti Universitas Oxford, Inggris. Disertasinya tentang Konservasi Babi Rusa di Sulawesi. Studi pertama di dunia untuk babirusa di alam liar. Cayton-lah yang mengulas detail kandungan mineral lumpur Adudu.

Bermula dari meneliti kemudian benar-benar jatuh hati pada babirusa. Hingga kemudian turut berkontribusi langsung menjaganya. Mendirikan Yayasan Adudu Nantu Indonesia (YANI) untuk menjaga babirusa dan habitatnya.

Mengapa ia suka bermasker lumpur?

Tubuh babirusa tidak memiliki kelenjar keringat. Dalam tubuhnya terdapat lemak yang melimpah. Karenanya membuat tubuh bongsornya mudah panas.

Untuk menjaga agar suhu tubuhnya tetap stabil, mereka memakai lumpur. Melumuri seluruh tubuhnya dengan lumpur. Dengan begitu suhu tubuh mereka tetap hangat. Masker lumpur ini juga berfungsi ganda. Melindungi tubuh mereka dari sengatan sinar matahari.

Babirusa melumuri tubuhnya dengan lumpur dengan berkubang. Berkubang menjadi aktivitas harian satwa ini seperti halnya kerbau. Membenamkan hampir seluruh tubuhnya dalam kubangan lumpur.

Kubangan lumpur ini juga menjadi arena bertarung para pejantan untuk merebut hati sang betina. Bertarung untuk menunjukkan keperkasaannya.

Dari sanalah gigi taring yang menyeruak laksana tanduk ini berfungsi. Saling menanduk untuk memenangkan pertarungan. Kemenangan sebagai tanda kejantanan.

Saat sang jantan menang ia akan mendatangi sang betina idaman. Saling mengendus dan mengosokkan kepala pertanda mereka saling suka.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2