Mengenal Capung, Habitat dan Filosofi Hidupnya

Klikhijau.com - Saat masih kanak-kanak, di kampung saya di bagian Selatan Sulawesi Selatan, capung adalah kawan bermain yang menggemaskan. Kami menyebutnya pedo atau dudduk. Capung yang terbang ren...

Mengenal Capung, Habitat dan Filosofi Hidupnya
Bacakan Artikel

Buku yang diterbitkan pada 2013 oleh Indonesia Dragonfly Society ini rasanya sangat berarti ditengah kelangkaan sumber literatur mengenai capung.  Rasanya terlambat menjumpai bacaan ringan nan lengkap seputar capung. Beruntung, di lembaran awal buku ini penulisnya menyentil dengan suatu dialog begini:

X     : “kenapa harus capung?”

IDS : “karena capung juga sumber belajar”

X    : “kenapa tidak dari dulu?”

IDS : “karena bisa dimulai dari sekarang”

[irp]

Terbilang wajar, sebagaimana dicakapkan Karyadi Baskoro (Dosen, Pengelola Foto Biodiversitas Indonesia) pada prolognya. Berapa ahli peneliti khusus mengenai capung di Indonesia? Jawabnya kurang dari 5 orang, dan itu semua dari bangsa asing. Belum ada dari bangsa Indonesia.

Selanjutnya, berapa publikasi ilmiah tentang capung Indonesia? Hanya ada beberapa belas judul, semua ditulis oleh orang asing yang sumber literaturnya tak mudah didapatkan. Apakah ada buku panduan identifikasi capung Indonesia? Jawabannya belum ada satu judul pun. Malaysia sudah punya dua judul dan Singapura satu judul (setidaknya hingga periode 2013).

Padahal, jumlah spesies capung di Indonesia mencapai 900 jenis (bisa lebih). Ini ironis bukan? kabarnya, Indonesia sangat kaya spesies capung, mendekati 15 persen dari sekitar 5680 jenis yang ada di dunia. Dalam konteks ini, kita sungguh-sungguh memerlukan upaya keras  agar karya dan riset lebih dalam tentang capung kelak lebih berkembang.

Rasanya penting berterima kasih pada 5 penulis buku ini (Wahyu Sigit, Bambang Feriwibisono, Magdalena Putri Nugrahani, Barnadeta Putri dan Tabita Makitan).  Mereka masih muda-muda saat buku ini dituliskan. Kerja kerasnya mengamati capung di Wendit, satu kampung di Desa Wangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, layak diapresiasi.

[irp]

Selama dua tahun, kelimanya telaten mengumpulkan bahan dan informasi yang detail hingga buku ini diterbitkan. Menariknya, mereka menulisnya dengan gaya bahasa ringan ala blogger dan penulis populer. Sesuatu yang juga menginspirasi betapa riset-riset ilmiah ke depan, sudah saatnya dituturkan dengan gaya bahasa dan narasi yang lebih empuk dan ringan.

Di dalam buku inillah, capung (ordo odonata), satu jenis serangga yang konon muncul sejak zaman karbon (360 -290 juta tahun yang lalu) diperkenalkan. Saya membacanya dan menjumpai jenis-jenisnya yang lengkap.

Kehidupannya yang unik, makanan dan kemampuan terbangnya yang canggih layaknya pesawat terbang. Lalu, di ujungnya saya menghayati suatu narasi sederhana: dimana ada capung yang lestari di situ ada kondisi  lingkungan yang masih harmonis, juga sebaliknya.

Saya cemas dengan perihal ini, pasalnya dalam beberapa kali pulang kampung, capung mulai jarang bergentayangan di desa saya. Di banyak desa lain yang pernah saya jumpai juga begitu. Saya khawatir, kita kehilangan satu yang istimewa bernama capung. Serangga dengan beragam filosofi melekat pada hidupnya.

[irp]

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2