Melihat Bencana Lingkungan dari Kacamata Prof Koesnadi

Klikhijau.com - Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat sejak akhir November hingga awal Desember 2025 telah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar dal...

Melihat Bencana Lingkungan dari Kacamata Prof Koesnadi
Bacakan Artikel
Adli Firlian Ilmi

Artikel terbaru dari Adli Firlian Ilmi (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Izin- izin lingkungan diberikan tanpa mempedulikan daya dukung lingkungan. Reboisasi hanya formalitas di atas kertas, sementara penegakan hukum pidana lingkungan tak pernah menyentuh korporasi besar. Akibatnya, ketika hujan deras datang, air tidak lagi tertahan oleh akar-akar pohon dan serasah hutan, melainkan langsung menjadi banjir bandang yang membawa serta lumpur, batu, dan kayu — sekaligus merenggut ratusan nyawa dalam hitungan jam.

Melestarikan nilai Prof Koesnadi hari ini berarti mengembalikan marwah Hukum Tata Lingkungan sebagai pedoman utama pembangunan. Artinya menolak segala bentuk relaksasi izin di kawasan hulu sungai, mewajibkan setiap izin usaha menyertakan restorasi lahan kritis minimal 30% dari luas konsesi, menerapkan tanggung jawab mutlak bagi setiap pencemar atau perusak ekosistem, serta menjadikan kerusakan lingkungan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia sebagai kejahatan luar biasa dengan sanksi yang setimpal.

Karena seperti yang selalu ditekankan Prof Koesnadi, lingkungan yang baik bukan sekadar hak asasi, melainkan prasyarat eksistensi peradaban itu sendiri.

Sumatera sedang menangis dengan 914 jenazah yang terkubur lumpur, tapi tangisan itu seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali kepada ajaran Hukum Tata Lingkungan Prof Koesnadi “tatalah lingkungan sesuai keselarannya”, maka kehidupan akan selamat. Jika kita masih membiarkan hutan hulu terus gundul demi keuntungan segelintir orang, maka bencana berikutnya bukan lagi “kapan”, melainkan “berapa ribu nyawa lagi yang harus kita korbankan”.

Saatnya kita hidupkan kembali semangat Prof Koesnadi, karena hanya dengan keselarasan sejati antara manusia dan lingkungannya, kita masih punya masa depan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2