Limbah Makanan, Masalah Global yang Belum Terurai

Klikhijau.com – Limbah makanan masih menjadi sorotan. Bukannya menurun, angkanya semakin meroket. Dari tahun ke tahun. Laporan Indeks Limbah Makanan terbaru PBB, yang disusun bekerja sama dengan ba...

Limbah Makanan, Masalah Global yang Belum Terurai
Bacakan Artikel

“Kabar baiknya adalah kita tahu jika negara-negara memprioritaskan masalah ini, mereka dapat secara signifikan membalikkan kehilangan dan limbah pangan, mengurangi dampak iklim dan kerugian ekonomi, serta mempercepat kemajuan dalam mencapai tujuan global,” kata Andersen.

Masih tinggi

Walau ada beberapa negara yang secara positif dalam hal mengurangi limbah makanan, namun laporan tersebut juga mengungkapkan, pada tahun 2022 secara total, sekitar 1,05 miliar metrik ton limbah makanan, baik bagian yang dapat dimakan maupun yang tidak dapat dimakan.

Setidaknya jumlah ini mencakup hampir 20% dari makanan yang tersedia. Lebih lanjut, laporan tersebut menemukan bahwa sampah makanan mencapai 132 kilogram per kapita, dengan sebagian besar sampah makanan (60%) terjadi di rumah tangga, diikuti oleh 28% sampah makanan terjadi di layanan makanan dan 12% di sektor ritel.

Para penulis laporan ini merekomendasikan pendekatan kolaboratif untuk mengatasi limbah pangan dan kerawanan pangan, termasuk melalui kemitraan pemerintah-swasta, yang telah membantu mengurangi limbah makanan per kapita di Australia, Indonesia, Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris.

“Dengan besarnya dampak buruk terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi global yang disebabkan oleh limbah makanan, kita memerlukan tindakan terkoordinasi yang lebih besar di seluruh benua dan rantai pasokan. Kami mendukung UNEP dalam menyerukan lebih banyak negara G20 untuk mengukur limbah makanan dan berupaya mencapai SDG12.3,” kata Harriet Lamb, CEO WRAP.

Ia menambahkan, hal tersebut penting untuk memastikan makanan memberi makan masyarakat, bukan tempat pembuangan sampah.

Karenanya, kemitraan Pemerintah-Swasta adalah salah satu alat utama yang memberikan hasil saat ini.

Namun, hal ini memerlukan dukungan, baik filantropis, bisnis, atau pemerintah, para pelaku harus bersatu di belakang program untuk mengatasi dampak besar pemborosan makanan terhadap ketahanan pangan, iklim, dan dompet kita.

PBB sendiri bertujuan untuk mengurangi setengah limbah makanan pada tahun 2030. Karena limbah ini berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim.

Menurut PBB, limbah makanan menyumbang sekitar 8% hingga 10% dari emisi global. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan industri penerbangan yang menyumbang sekitar 2% emisi karbon global pada tahun 2022.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2