Lelaki Rumahan, Teori Crack, dan Serbuan Botol Plastik

Klikhijau.com - Sekali waktu saat kamu menjadi 'lelaki rumahan' maka sesuatu harus memaksamu menolak rebahan. Menjauh saja sejenak dari memelototi layar televisi. Toh benda ajaib itu hanya menyuapi...

Lelaki Rumahan, Teori Crack, dan Serbuan Botol Plastik
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sekali waktu saat kamu menjadi 'lelaki rumahan' maka sesuatu harus memaksamu menolak rebahan. Menjauh saja sejenak dari memelototi layar televisi.

Toh benda ajaib itu hanya menyuapimu dengan acara-acara yang hanya bisa dipahami emak-emak berdaster.

Kerap kamu juga terlihat hanya menimang smartphone tanpa menggunakannya. Ternyata dia barang yang tidak berguna ketika tidak punya data internet maupun pulsa. Di kondisi itulah terkadang kamu merasa perlu datang ke kebun, mencari sesuatu yang bisa dipetik atau ditebang. Biar terlihat sibuk meskipun sejatinya pengangguran.

Itu harus dilakukan jika kamu masih punya warisan pendahulumu, berupa tanaman atau pun taman bunga. Jika itu tidak ada maka anakmu bisa membuatmu menjadi "pabrik mobil". Jika tidak atau belum punya anak, maka mau tak mau cobalah kembali sesaat menjadi anak-anak.

Dari sanalah lelaki rumah-rumahan mulai menyadari bahwa rumah, sekecil dan sesederhana apapun, selalu lebih unggul atas laboratorium hingga pabrik industri. Dia bisa ngotot berargumen, bahwa tanda peradaban selalu dimulai dari rumah-rumah yang berpenghuni. Di sanalah imajinasi tetap unggul atas ilmu pengetahuan.

Begini saja, saya pun pernah berada di posisi itu. Lelaki yang meresahkan!

Setidaknya ada tiga syarat untuk menjadikan rumah kita sebagai hanggar pesawat hingga sirkuit F1. Pertama, menjadi ayah bagi seorang balita. Kedua, lagi menganggur. Ketiga, sampah plastik menyerbu dari segala arah.

Anak saya masih umur tiga tahun saat kami berdua berpetualang menjadi perancang beberapa kendaraan. Mulai moda transportasi darat, laut, udara, hingga luar angkasa. Sepertinya SpaceX Elon Musk tidak ada apa-apanya.

Sejak kecil, sebenarnya saya tidak mahir amat dibanding 'Si Amat' dalam membuat mainan dari barang'-barang bekas. Namun konsekuensi paling ril seorang ayah adalah dia harus bisa menjadi 'pahlawan" .

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2