Lelaki Pinisi dan Sepotong Senja

Klikhijau.com -Sudah menjadi ritual di pagi hari Sula ketika bangun tidur adalah menuju dapur dan membuat secangkir kopi Arabica dan duduk menikmatinya sesapan demi sesapan di meja mini bar yang baru...

Lelaki Pinisi dan Sepotong Senja
Bacakan Artikel
Ilham Aidil

Pengajar PIBA UIN Alauddin Makassar

Ilham Aidil

Artikel terbaru dari Ilham Aidil (lihat semua)

“Rianti.” Rianti mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ke Sula sambil tersenyum. Kulitnya putih. Sula terperangah sebab wanita yang ada di depannya adalah ia yang dapati di pantai lemo-lemo yang lalu. Meski begitu Sula tidak ingin bersalaman lagi kepada mereka yang bukan mahram. Entah karena alasan pribadi atau pertimbangan agama.

“Sula.” Sambil menyatukan kedua tangannya sebagai tanda perkenalan.

Sula dan Luka sudah lama berteman dari SD hingga SMA, mereka bercakap-cakap tentang masa kecil, masa sekolah dan apa saja setelah lama tidak bertemu. Sebagai seorang aktivis lingkungan Luka banyak bercerita tentang pengalamannya selama berorganisasi, tahun lalu ia masuk dalam tim pemenangan salah satu paslon calon Bupati.

Menurutnya daerah ini dengan segala potensi yang dimilikinya mesti dipimpin oleh orang yang tepat. Kepemimpinan kali ini lebih banyak membangun usaha pribadi dan tidak berdampak ke masyarakat. Hanya saja paslon yang ia dukung gagal. Andai menang ia bisa mendapat posisi strategis dalam kepemimpinan sang paslon.

Rianti lebih banyak diam memandangi HP dan tidak diikutkan dalam perbincangan. Kelihatan bosan sekali. Tampak sekali ia tidak senang dengan Luka yang mengacuhkannya dan tidak melibatkannya dalam perbincangan. Tetapi di lain kesempatan Sula dan Rianti mencuri pandang satu sama lain.  Rianti seperti terkesima dengan pemikiran Sula yang cemerlang.

Setelah hampir sejam bercerita, Luka dan Rianti pamit.

***

Beberapa hari setelahnya Sula datang kembali di kafe yang sama dan di sana ia dapati perempuan muda yang duduk sendirian menyeruput jus apel sembari menikmati laut yang membentang luas, Rianti.

“Hei,” sapa Sula mengagetkan.

“Rianti kan?”

Rianti menoleh dan tersenyum.

“Iya,”

“Sendirian?”

“Iya”

“Luka dimana?”

“Sedang ada urusan.” Jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu. Udara dari luar terasa begitu liar. Angin kencang bertiup dari pantai. Kalau dilihat dari dekat wajah Rianti mirip seperti orang Jepang. Mata sipitnya tersembunyi di balik kacamata. Mereka berbincang seperti orang yang sudah lama saling kenal. Mereka berbincang seperti mengisyaratkan sebuah perasaan. Keduanya merasa memiliki kesamaan. Saling memahami dengan kata-kata yang tidak terucap. Rianti sementara menyusun tesis untuk penyelesaian S2 nya di bidang linguistik. Sama seperti Sula hanya beda kampus saja. Tidak butuh waktu yang lama bagi Sula untuk menyelami perasaannya kepada Rianti dan begitupun sebaliknya.  Ilmu semiotika dan pragmatik bekerja dengan baik. Mereka sama-sama memahaminya dan tidak perlu menunggu lama. Semoga ini tidak mengganggumu, tetapi...

“Maukah kamu hidup bersamaku?”

Rianti seperti terenyuh dan tidak kuasa menolak perasaannya yang telah membadai. Perasaannya begitu kuat. Layarnya sudah terkembang dan ia harap kemudi itu dijalankan oleh lelaki yang kini ada di hadapannya, lelaki pinisi, Sula.

“Iya.” Rianti meneteskan air mata bahagia.

“Bagaimana dengan Luka?” lanjut Rianti.

Rianti tidak tahu bagaimana perasaan Luka jika mengetahui ini. Ia lebih menaruh kepercayaan kepada Sula yang lebih mengerti tentang laut dan kapal dibanding Luka yang hanya pandai berputar-putar di pinggiran laut. Luka tidak pandai mengembangkan layar dan menarik kemudi.  Bersama Luka tidak pernah ia benar-benar bahagia. Ia merasa kesepian. Seperti tidak dianggap. Hadirnya Sula mengubah segalanya. Sula tanamkan keyakinan yang tidak ia temukan pada sosok Luka.

“Kita arungi sama-sama.” Sula menggenggam tangan Rianti erat-erat, sementara Rianti melihat kesiapan menghadapi apa pun di wajah Sula. Hatinya bergetar seperti riak air dan mulai saat ini ia mempercayakan segalanya pada Sula.

“Bawa saya berlayar ke mana pun kamu akan pergi, Sula!”

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2