Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Energi di Tangan Ketahanan Air

Klikhijau.com – Ketahanan pangan dan energi memang penting. Namun, yang lebih penting adalah sumber daya air. Karena sumber daya air dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisah. Manusia bisa ber...

Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Energi di Tangan Ketahanan Air
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Ketahanan pangan dan energi memang penting. Namun, yang lebih penting adalah sumber daya air.

Karena sumber daya air dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisah. Manusia bisa bertahan tanpa uang, kendaraan bahkan makanan, tapi tak bisa bertahan hidup tanpa air.

Air merupakan senyawa kimia yang paling berlimpah di alam. Namun demikian, sejalan dengan meningkatnya taraf hidup manusia. Karena itu kebutuhan air pun meningkat pula, sehingga akhir-akhir ini air menjadi barang yang "mahal" (Tjutju Susana, 2003).

Air sebagai barang mahal, seperti yang dikatakan Susana akan semakin terasa saat kemarau tiba. Namun meski kemarau belum tiba, dengan adanya pandemi Covid-19 pun  telah  mempengaruhi pencapaian target Sustainable Development Goals (SGDs) Indonesia.

Pengaruh pencapain SGDs itu berimbas terutama dalam upaya menjamin ketahanan air, pangan maupun energi secara nasional, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Dibanding dengan pangan dan energi, air menjadi jauh lebih penting.  Menurut Direktur Eksekutif APCE-UNESCO, Ignasius D.A. Sutapa ketersediaan air di masa mendatang  tak  lagi menjadi sumber daya. Namun akan menjadi aset penting bagi keberlangsungan sektor ketahanan pangan dan energi.

Itu artinya apabila menginginkan ketahanan pangan dan energi terpenuhi, maka ketahanan air perlu diperhatikan.

“Riset, inovasi dan teknologi sangat diperlukan sebagai dasar pengelolaan sumber daya air. Konsep pendekatan ecohydrology sangat dibutuhkan, karena harus dilakukan secara holistik,”  tutur Ignas.

Tentang air

Tjutju Susana dalam Ross, D,A  (2003) menjelaskan bahwa jumlah air yang terdapat di muka bumi ini relatif konstan, meskipun air mengalami pergerakan arus, tersirkulasi karena pengaruh cuaca dan juga mengalami perubahan bentuk.

Sirkulasi dan perubahan bentuk tersebut antara lain melalui air permukaan yang berubah menjadi uap (evaporasi), air yang mengikuti sirkulasi dalam tubuh tanaman (transpirasi) dan air yang mengikuti sirkulasi dalam tubuh manusia dan hewan (respirasi). Air yang menguap akan terkumpul menjadi awan kemudian jatuh sebagai air hujan.

Air hujan ada yang langsung bergabung di permukaan, ada pula yang meresap masuk ke dalam celah batuan dalam tanah, sehingga menjadi air tanah. Air tanah dangkal akan diambil oleh tanaman, sedangkan air tanah dalam akan keluar sebagai mata air. Sirkulasi dan perubahan fisis akan berlangsung terus sampai akhir zaman.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2