Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Energi di Tangan Ketahanan Air

Klikhijau.com – Ketahanan pangan dan energi memang penting. Namun, yang lebih penting adalah sumber daya air. Karena sumber daya air dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisah. Manusia bisa ber...

Keberlangsungan Ketahanan Pangan dan Energi di Tangan Ketahanan Air
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Apa yang dijelaskan oleh Susana dengan mengutip pendapat Ross menandakan jika ketersediaan air akan terus terjamin sampai akhir zaman.

Sayangnya, ikut campur manusia menjadikan air ke depannya akan semakin sulit. Itu karena sumber air semakin tercemar oleh Industri, ditambah lagi kerusakan alam yang menyebabkan perubahan iklim dan merusak kanton-kanton penyimpanan air.

Ignasius juga mengatakan bahwa saat ini Asia Pasifik dihadapkan pada lima isu persoalan air, salah satunya terkait perubahan iklim. Dampak ketahanan air juga akan berdampak ke indonesia.

Shahbaz Khan, Direktur UNESCO mengatakan jika Indonesia tak segera melakukan antisipasi untuk ketahanan air, Indonesia akan masuk kategori high water stress ke depannya.

“World Resources Institute memprediksikan pada tahun 2040, Indonesia termasuk dalam kategori high water stress, apabila tidak segera melakukan upaya-upaya signifikan untuk ketahanan air,” papar Shahbaz.

Langkah yang harus dilakukan?

Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko sebagai upaya menjamin ketahanan air, pangan maupun energi secara nasional, perlu dilakukan penataan, tata kelola, dan koordinasi ulang untuk mencapai target SDGs.

Untuk menjamin tiga aspek ketahanan tersebut, LIPI memiliki fokus riset untuk mendukung ketiganya, khususnya air.

“Sejak lama topik air dan pangan telah menjadi fokus riset. LIPI telah melakukan riset pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Riset pangan fokus pada penciptaan nilai tambah dari pangan lokal dari sumber daya alam darat maupun laut. Riset energi  fokus pada pengembangan energi berbasis sumber daya alam nabati. Juga  perkembangan teknologi dengan energi baru terbarukan seperti kendaraan listrik,” ungkap Handoko seperti dikuti dari laman resmi LIPI.

Sedangkan Febrian A. Ruddyard selaku Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri mengakatan bahwa seluruh problem yang muncul termasuk masalah air, pangan dan energi perlu segera diatasi.

”Saat ini adalah dekade untuk aksi pencapaian SDGs 2030. Indonesia mengedepankan SDGs sebagai framework dalam usaha pemulihan pasca pandemi. Usaha ini harus mengutamakan pendekatan interlinkages untuk memajukan beberapa capaian sekaligus,” terang Febrian.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, untuk ketahanan pangan, pemerintah telah menyiapkan kebijakan untuk peningkatan ketersediaan pangan di era new normal.

“Kebijakan ini terbagi dalam empat cara bertindak, yaitu peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan, dan pengembangan pertanian modern,” rincinya.

Untuk ketahanan energi,  Sugeng Mujiyanto selaku Kepala Biro Fasilitas Kebijakan Energi dan Persidangan, Dewan Energi Nasional menyatakan ke depan energi menjadi modal. Kemandirian energi sebagai modal dan optimalisasi pemanfaatan energi diperlukan untuk pembangunan ekonomi, penciptaan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.

“Diharapkan penggunaan dan impor energi semakin sedikit dan perlu dilakukan pengembangan renewable energi, konservasi energi, perubahan perilaku penggunaan energi, serta penyimpanan energi untuk mencukupi ketersediaan energi di masa depan,”  jelas Sugeng

Namun, seperti yang diungkapkan di atas bahwa ketahanan pangan dan energi ke depannya akan tergantung pada ketahanan air. Maka mengatasi masalah ketahanan air menjdai sangat penting.

Menjaga sumber daya air agar tetap lestari, berarti menyelamatkan ketahanan pangan dan energi.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2