Banga Batu, Tumbuhan Langka Penghias Puncak-puncak Menara Karst Maros-Pangkep

Klikhijau.com - Tahukah kamu kawasan karst Maros-Pangkep? Pasti sudah tahu ya.. apalagi bagi yang berdomisili di Makassar dan sekitarnya.  Namun mungkin pengetahuan tentang wilayah ini masih terbatas...

Banga Batu, Tumbuhan Langka Penghias Puncak-puncak Menara Karst Maros-Pangkep
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Tahukah kamu kawasan karst Maros-Pangkep? Pasti sudah tahu ya.. apalagi bagi yang berdomisili di Makassar dan sekitarnya.  Namun mungkin pengetahuan tentang wilayah ini masih terbatas ya.. yuk kita bahas bersama. Karena tak kenal maka tak sayang.

Kawasan karst ini cukup luas, sekitar 40.000 ha. Sudah termasuk bagian yang dimanfaatkan oleh dua perusahaan semen besar: Bosowa dan Tonasa. Meski begitu kita patut bersyukur karena setengah dari luasan tersebut masuk sebagai wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Hal tersebut berarti wilayah yang berada di kawasan konservasi tersebut akan terjaga dengan baik. Sebagian lagi karst tersebut masuk sebagai kawasan ekosistem esensial.

Lebih jauh lagi, saat ini wilayah ini telah mendapat pengakuan secara internasional melalui UNESCO yakni sebagai Maros Pangkep UNESCO Global Geopark dan Cagar Biosfer Bantimurung Bulusaraung Marupa'ne. Wilayah keduanya bahkan lebih luas dari luas total kawasan karst tersebut.

Ekosistem hutan karst memiliki karasteristik yang berbeda dengan jenis hutan lainnya. Menurut Tolentino et al. (2020) hutan batu kapur memiliki relung ekologi yang beragam, vegetasi spesifik, dan medan kompleks. Ekositem hutan ini juga belum banyak diekplorasi atas kandungan tumbuhan dan satwanya. Boleh jadi ada banyak spesies spesifik yang hanya hidup pada ekositem ini. Karena itu peluang menemukan sebaran baru atau bahkan spesies baru begitu terbuka.

Karst tak hanya rumah bagi aneka fauna dan flora, bahkan lebih dari itu. Pada wilayah batuan gamping ini menjadi daerah tangkapan air dan mengalirkankanya melaui mata air dan sungai-sungai. Wilayah ini, seperti halnya di dalam Kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung terdapat sungai-sungai bawah tanah, seperti contoh pada Gua Salukkang Kallang yang memiliki panjang gua 12 km dengan sungai bawah tanahnya. Dan beragam manfaat lainnya seperti pariwisata dan budaya.

Jika sudah mengenalinya secara umum, ada baiknya kita mengenalnya lebih spesifik lagi. Saya ingin mengenalkan salah satu tumbuhan penghuni hutan batuan gamping ini. Nama tumbuhannya adalah "banga batu". Pemilik nama ilmiah: Dracaena multiflora ini habitat utamanya adalah ekosistem karst. Tumbuh di puncak-puncak menara karst.

Tumbuh pada karst yang memiliki tinggi berkisar 100 s.d 200 meter dar permukaan tanah. Begitu menggoda saat memandangnya. Apalagi jika menjumpainya tumbuh dalam satu rumpun yang lebat. Seolah menemukan taman dengan permadani vegetasi yang menawan. Menghias bukit-bukit karst yang lebih sering kita jumpai gersang.

"Dracaena ini lebih banyak tumbuh di wilayah karst Pangkep. Pada wilayah Maros hanya terdapat di beberapa titik saja," terang Prof. Ngakan Putu Oka, Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin. Pada suatu waktu saat kami berdiskusi tentang flora penyusun hutan karst.

Banga batu ini sebarannya tidak begitu luas. Perjumpaan spesies ini hanya ditemukan di Sulawesi, khusus di tanah air. Batuyong et al. (2020) juga melaporkan keberadaan banga batu ini di hutan batu kapur di salah satu cagar alam di Filipina. Tepatnya di Cagar Hutan Daerah Aliran Sungai Metropolitan Ilocos Norte, Luzon Barat Laut, Filipina. Wong et al. (1999) juga menemukan pertama kalinya di negaranya, Malaysia di Pulau Semporna, Sabah. Wong dan kawan-kawan merasa senang dengan perjumpaan Dracaena ini. Tampak dari publikasi jurnalnya menampakkan foto Dracaena multiflora-nya. Menurutnya tumbuhan ini termasuk langka.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2