Atasi Pencemaran di Ketinggian, Fasilitas Sanitasi Hijau Kini Hadir di Pos 8 Bawakaraeng

Klikhijau.com - Langkah konkret dalam upaya pelestarian ekosistem pegunungan kembali ditunjukkan melalui kolaborasi masif berbagai elemen, 110 delegasi yang berasal dari instansi pemerintah, organisas...

Atasi Pencemaran di Ketinggian, Fasilitas Sanitasi Hijau Kini Hadir di Pos 8 Bawakaraeng
Bacakan Artikel

Selain aksi pungut sampah, momen krusial dalam kegiatan ini adalah peresmian green infrastructure (infrastruktur hijau) berupa fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusdal LH Suma, Dr. Azri Rasul.

Infrastruktur Hijau: Solusi Sanitasi di Ketinggian

Peresmian bangunan fasilitas sanitasi ini menjadi terobosan penting bagi pengelolaan kawasan Gunung Bawakaraeng. Dr. Azri menjelaskan bahwa selama ini akses air bersih menjadi kendala utama bagi para pendaki di sekitar area perkemahan Pos 8.

"Biasanya, ketika pendaki berada di sini dan membutuhkan air, mereka harus turun cukup jauh menuju sungai. Kami hadir untuk memberikan solusi dengan menghadirkan sistem pengaliran air yang lebih dekat ke kawasan camp," kata Azri Rasul.

Ia mengaku dalam pembangunan ini telah memikirkan pemilihan bahan untuk dapat dilakukan dalam waktu jangka panjang.

"Kami menggunakan pipa elastis yang telah dirancang khusus agar tahan lama dan tidak mudah rusak meski terinjak oleh binatang hutan. Air tersebut dialirkan dari sumbernya sejauh 120 meter menuju penampungan yang kita bangun di atas," jelas Dr. Azri Rasul saat meninjau langsung fasilitas tersebut.

Kehadiran fasilitas sanitasi di pegunungan bukan hanya masalah kenyamanan, melainkan sebuah kebutuhan ekologis yang mendesak.

Sanitasi yang buruk di kawasan hulu dapat berdampak sistemik terhadap kualitas air yang mengalir ke hilir, yang notabene dikonsumsi oleh ribuan warga di kaki gunung. Dengan adanya MCK yang terencana, pembuangan limbah manusia dapat dikelola dengan lebih baik, sehingga tidak mencemari tanah dan sumber air alami yang menjadi nadi kehidupan ekosistem setempat.

Aksi lingkungan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan Pusdal LH Sulawesi dan Maluku yang diwakili oleh Kabidwil II, Arnianah Alwi, S.Si, M.Si, serta Kasubag Tata Usaha, Rina Triany, M, S.E, M.A.P. Kehadiran mereka didampingi oleh jajaran staf Bidang Wilayah 2 dan Tata Usaha yang bahu-membahu bersama relawan lainnya.

Tak ketinggalan, Dharma Wanita Pusdal LH Suma yang dipimpin langsung oleh drg. Sukreni Abdullah, M.KEs, turut terjun langsung ke lapangan, membuktikan bahwa komitmen pelestarian lingkungan juga didorong kuat oleh peran aktif kaum perempuan dan keluarga besar instansi pemerintah.

Menariknya, panitia sangat tegas dalam menerapkan prinsip ramah lingkungan selama kegiatan berlangsung. Setiap peserta diwajibkan membawa tumbler atau wadah air minum masing-masing.

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa aksi bersih ini tidak justru menambah produksi sampah plastik baru. Setelah menyelesaikan tugas berat di Pos 8, para peserta bergerak turun menuju Basecamp Lembanna untuk melanjutkan agenda koordinasi berikutnya yang akan difokuskan pada kawasan TWA Malino.

Aksi bersih dan pembangunan fasilitas ini seyogianya menjadi pemantik kesadaran kolektif. Gunung Bawakaraeng dan TWA Malino adalah warisan alam yang tak ternilai harganya. Namun, kelestariannya kini berada di ujung tanduk jika perilaku tidak bertanggung jawab masih terus berlanjut.

Fasilitas yang telah dibangun dengan susah payah ini adalah milik bersama, dan sudah menjadi kewajiban setiap pendaki serta pengunjung untuk menjaga dan merawatnya. Jangan sampai infrastruktur hijau yang dibangun untuk memuliakan alam justru rusak akibat vandalisme atau ketidakpedulian.

Pesan dari Gunung untuk tak hanya menjadi kunjungan, namun menjadikan gunung sebagai rumah, bukan tempat sampah.

Pelestarian lingkungan bukanlah tugas sekali jalan, melainkan komitmen seumur hidup. Edukasi antar sesama pendaki harus terus dilakukan. Jangan ragu untuk saling mengingatkan jika melihat rekan sesama pendaki yang membuang sampah sembarangan atau merusak fasilitas umum.

Keberlanjutan lingkungan yang lestari bisa dicapai dengan mengedankan budaya malu, malu jika tidak membawa sampah turun, malu jika merusak alam, dan malu jika tidak memberikan warisan lingkungan yang bersih bagi generasi mendatang.

Jaga Bawakaraeng, jaga Malino, dan jaga napas bumi, satu sampah yang dipungut adalah satu harapan bagi kelangsungan hidup alam .

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2