Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pintu dari Babatan Hutan

Sekarat Berkarat   ia duduk di tepi jurang di belakang rumahnya tiga meter dari sungai biarkan sunyi tiba di matanya pelan, sangat pelan hujan turun mengantar tanah ke kakinya daun bers...

Oleh Idris Makkatutu 20 Aug 2022 13:17 2 menit baca

Sekarat Berkarat

  ia duduk di tepi jurang di belakang rumahnya tiga meter dari sungai biarkan sunyi tiba di matanya pelan, sangat pelan hujan turun mengantar tanah ke kakinya daun berserakan, luruh bacai cuaca tak bergerak ia air sungai menderah hanyutkan pohon-pohon dari hulu lumpur menulis pesan "aku sekarat, hatimu berkarat" dibacanya pesan itu lumpur menutup mata air membekap mulut pohon-pohon menindih tubuh "aku sekarat, hati berkarat,” rengeknya air terus saja tiba, tak henti-henti tandabaca, 2022
[irp]

Aku Tak Bisa Memasak Sampah, Kekasih

  aku menuju dapur membuka panci perut berontak bulir peluh meliar tenggorokan rasanya dihinggapi kemarau kering kerontang kuputar keran air air menetes malas pelan sekali keruh bau sejak sungai hanya mengalirkan sampah sayur mayur hilang dalam panci ketika pohon berganti gedung mata air jadi air mata bobboro lenyap dalam panci aku tak bisa memasak sampah, kekasih, katamu bibirmu kemarau pecah di mana-mana aku menatap keluar jendela rumah kita mulai berpagar sampah dibawa air sungai saat hujan tujuh menit lalu tandabaca, Agustus 2022 [irp]

Pintu dari Babatan Hutan

  air tiba di tangga rumahmu kau bingung mana yang lebih dulu kau selamatkan, kenangankah atau barang-barang atau buku tabungan dengan isi tak seberapa ataukah beberapa lembar ijazah yang tak mampu mengutarakan apa-apa selain sunyi dan sesak kau lupa mengabariku perihal pohoh-pohon di hulu, yang menyimpan ari-ari leluhur telah tiada barangkali ia telah hijrah ke Jakarta atau ke kota-kota asing jauh yang penuh siasat tanpa satu pun surat wasiat hanya banjir yang sampai di tangga rumahmu jadi kabar duka luka namun, kau tetap saja mematung, barangkali memikirkan air galon dan gas yang belum sempat kau isi ulang sejak pohon-pohon hijrah ke kota, kayu bakar pun hijrah ke gas, tak ada lagi jelaga di dapur, tak ada abu gosok aku tahu, hidupmu makin sempit dan tangga rumahmu tak ubahnya sumpit aku tetiba saja ingin jadi air, jadi pohon, jadi kayu bakar merimbuni rindu membawamu ke dalam bahuku dan menenggelamkankanmu dalam pelukan kita lalu berakar, tetumbuhan tumbuh dalam tubuh, air mengalir dari pori. kehidupan kembali merayakan hidupnya. Bukankah itu keinginanmu sejak dulu? mengekallah dalam tabuh tubuh yang jadi musik keabadian di mana kita terus menjalar ke hulu, menanami lahan-lahan gundul dengan napas kemarilah... kemarilah...! genggamlah tanganku lebih erat. aku telah sampai di depan pintumu pintu yang kau buat dari membabat hutan di hulu itu. pintu itu membawa air ke tangga rumahmu Agustus 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #sastra lingkungan #sastra dan lingkungan