Peran Nyata Masyarakat Adat dalam Menjaga Ketahanan Pangan Lokal

Klikhijau.com - Gempuran globalisasi dan modernisasi pertanian yang seragam, cerita tentang masyarakat adat sering kali tersingkirkan. Namun, di balik rimba raya, di lereng gunung, dan di pesisir pant...

Peran Nyata Masyarakat Adat dalam Menjaga Ketahanan Pangan Lokal
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Gempuran globalisasi dan modernisasi pertanian yang seragam, cerita tentang masyarakat adat sering kali tersingkirkan. Namun, di balik rimba raya, di lereng gunung, dan di pesisir pantai, mereka adalah garda terdepan yang tak pernah lelah menjaga sebuah harta tak ternilai, ketahanan pangan lokal.

[irp]

Keberadaan mereka bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah realitas yang secara ilmiah terbukti krusial dalam menghadapi tantangan pangan masa kini dan masa depan.

Warisan Pengetahuan Ekologi: Peta Jalan Menuju Swasembada Pangan


Masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologi tradisional (TEK) yang terakumulasi selama ribuan tahun. Pengetahuan ini bukan sekadar cerita lisan, melainkan sebuah sistem observasi, eksperimen, dan adaptasi yang rumit terhadap lingkungan sekitar. Mereka tahu betul kapan musim tanam tiba, jenis tanah mana yang cocok untuk tanaman tertentu, dan bagaimana cara mengelola hutan agar tetap produktif tanpa merusaknya.

Ambil contoh Masyarakat Adat Dayak di Kalimantan. Mereka memiliki sistem perladangan berpindah yang sering disalahpahami sebagai penyebab deforestasi. Padahal, sistem ini didasarkan pada prinsip siklus alam yang teruji. Mereka tidak membakar hutan secara sembarangan, melainkan hanya membersihkan lahan kecil, menanam, dan membiarkannya kembali menjadi hutan sekunder setelah panen.

Proses ini memungkinkan tanah untuk pulih, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan mencegah erosi. Studi oleh Suroso, dkk. (2018) dalam jurnal Forest and Society menunjukkan bahwa praktik agrikultur Dayak Iban, seperti "temuai," adalah cara cerdas untuk menjaga kesuburan tanah dan mencegah ledakan hama, berbeda jauh dengan monokultur modern yang rentan.

Di sisi lain, Masyarakat Adat Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai memiliki kebun sago yang dikelola secara komunal. Sagu (Metroxylon sagu) adalah sumber karbohidrat utama mereka. Mereka tidak menanam sago secara masif, tetapi memanfaatkan pohon sago liar di hutan secara bergantian.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: