Perahu Bakajang, Warisan Komunitas Adat Riau yang Bertahan dalam Arus Modernisasi

Klikhijau.com – Di tengah belantara Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, tersembunyi sebuah tradisi berusia ratusan tahun yang masih lestari: Piau atau Perahu Bakajang. Ini adalah kekayaan int...

Perahu Bakajang, Warisan Komunitas Adat Riau yang Bertahan dalam Arus Modernisasi
Bacakan Artikel

Ironisnya, dari tiga Kekhalifahan yang ada di Luhak Batu Songgan, Luhak Ujung Bukik, dan Luhak Ludai, hanya Kenegerian Miring yang masih teguh mempertahankan budaya leluhur ini.

Gotong Royong dan Keindahan Kain Penghias


Perahu Bakajang tidak dibuat secara sembarangan. Menurut Harun, pembuatannya melibatkan gotong royong pemuda adat Kenegerian Miring, jauh hari sebelum acara dimulai. Mereka bergotong royong menyiapkan kerangka, serta mengumpulkan berbagai warna dan ragam kain yang akan digunakan.

Proses menghias perahu Bakajang menjadi momen yang paling semarak. Dengan menggunakan kain batik panjang dan aneka kain berwarna-warni, pemuda adat mengubah perahu biasa menjadi mahakarya terapung.

Biasanya, kegiatan ini dilakukan satu atau dua hari sebelum acara dimulai untuk memastikan semua terpasang dengan sempurna. "Untuk satu perahu, bisa menggunakan lima sampai dengan sepuluh kain panjang batik dan lima kain warna warni lainnya," terang Harun.

Perbedaan peruntukan juga memengaruhi jenis kain yang digunakan. Untuk penyambutan raja, kain yang dipilih adalah warna-warna kebesaran raja, sementara perahu untuk tamu kehormatan lainnya menggunakan kain panjang biasa.

Bentuk Syukur dan Penolak Bala


Lebih dari sekadar hiasan atau penjemput tamu, perahu Bakajang memiliki makna spiritual yang mendalam. Ajismanto, Tetua Adat Kenegerian Miring, mengungkapkan bahwa tradisi ini telah ada sejak ratusan tahun lalu, diwariskan secara turun temurun sebagai bentuk syukur atas limpahan kekayaan alam.

Setiap kali ada hajatan atau acara besar di kampung, seperti Semah Rantau, perahu Bakajang selalu hadir. Dalam acara Semah Rantau, perahu ini digunakan untuk membawa para tetua adat, ninik mamak, ke hulu sungai untuk mengantarkan kepala kerbau. Ini adalah persembahan syukur atas kekayaan alam yang melimpah, sekaligus permohonan agar terhindar dari segala penyakit besar dan berat.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: