Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pepohonan Menghitam di Kotamu

Pepohonan Menghitam di Kotamu   "baunya mulai tercium," katamu mengalahkan deru kendaraan. suaramu menerobos masuk ke helm yang menutupi telingaku. tak menyahut aku bau asing itu menguas...

Oleh Idris Makkatutu 09 Jul 2022 14:55 2 menit baca

Pepohonan Menghitam di Kotamu

  "baunya mulai tercium," katamu mengalahkan deru kendaraan. suaramu menerobos masuk ke helm yang menutupi telingaku. tak menyahut aku bau asing itu menguasai seluruh penciuman bertabrakan dengan bau parfummu berbau rumput basah "sampai," ujarmu aku melongo, asing tiba sangat kental pepohonan di kotamu menghitam malam tak bertanya aku, sejak kapan bermula bukan jilatan api memanggang pepohonan itu pula bukan panggangan kemarau suara cericit meriuh kepakan sayap riahkan siang kotamu, kota hitam manis di taman itu kota dengan pepohonan menghitam dalam kuasa kalong kutatapi ia kutatapi kau aku berubah dahan-dahan pohon tandabaca, 9 Juli 2022 [irp]

Daun-daun Merimbun di Matamu

  matamu, sejak aku bermukim di sana kabut menghilang jauh duan-daun merimbun pesona aku pepohonan kau akar aku reranting kau daun-daun kita terus saling terteror ribang saling bertumbuh jadi kehidupan tandabaca, 9 Juli 2022 magrib tiba beburung puyeng mencari ranting menenggerkan diri pohon-pohon telah berubah ladang rempah Kindang, Juli 2022 [irp]

Asap di Kamarmu

  di sepanjang sunyi yang menghijau di matamu aku berlari ke sana kemari mencari reranting tuk kubakar hangatkan tubuh dari gigil menggemeretakkan gigi mengais-ngais rimbunan sunyi di matamu bakar apa saja yang bisa terbakar selain plastik aku kumpulkan dedaunan cengkih membakarnya, asapnya tiba di kamarmu terus saja aku membakar api jilati pohon cengkih terang benderang orang-orang berhamburan, teriak menggema borong kebakaran sunyi yang merimbun di matamu berjalan terus di sepanjang jalan dan keringat mulai mengucur sepanjang roda waktu Kindang, Juli 2022 [irp]

Aku-Kau

  aku terus bertumbuh jadi gemintang saat pekat malam meraja saat bulan sedang malu-malu di langit aku doa pada tanah aku harapan di hatimu aku laut biru dan di denyutku kau aliran sungai Kindang, Juli 2022 [irp]
Topik terkait
#ekologi sastra #sastra lingkungan #pepohonan #bahan baku parfum #kalong