Pengalaman Mengamati Burung Kacamata Laut yang Memikat Hati

Klikhijau.com - Suatu pagi di hari libur, saya menikmati hari yang lapang. Hari yang terbebas sementara dari hiruk-pikuk dunia kerja. Karenanya pagi buta itu, saya mengajak bocah kecil berkeliling kom...

Pengalaman Mengamati Burung Kacamata Laut yang Memikat Hati
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Suatu pagi di hari libur, saya menikmati hari yang lapang. Hari yang terbebas sementara dari hiruk-pikuk dunia kerja. Karenanya pagi buta itu, saya mengajak bocah kecil berkeliling kompleks. Sepertinya dia sudah hapal, pagi-pagi harus keluar dari rumah. Menikmati udara segar. Tak heran jika ia selalu menggenggam ujung telunjuk ini dan menariknya. Mengajakku keluar rumah.

Bocah yang baru berumur setahun lebih ini belum mampu berbicara tertata. Baru tahu satu dua kata. Tapi jangan kira ia tak paham akan sesuatu. Daya nalarnya sudah aktif.

Pagi itu, ia kembali menggenggam telunjukku. Menariknya. Menunjukkan sendal merahnya. Pertanda ia mengajak jogging pagi itu.

Saya mengiyakan. Sebelum keluar dari pintu utama, saya menyertakan kamera di genggaman. Berharap ada yang khilaf untuk dipotret.

Saya melepas bocah di peping blok depan rumah. Membiarkannya berjalan bebas, ke sana kemari. Saya cukup mengawasinya. Menjaganya kali-kali kendaraan roda dua melintas.

Suara-suara merdu beberapa burung bersahutan. Dari suaranya saya mengetahui setidaknya ada tiga jenis burung. Burung gereja, burung madu sriganti dan kutilang. Suara kutilang nampak lebih menguasai.

Petualangan saya dengan si bocah dimulai. Saya memanfaatkan waktu. Mencari sumber suara. Saya penasaran dengan burung madu sriganti. Saya mengikutinya ke mana dia terbang. Tak lama kemudian dia hinggap di pohon kersen. Bukan kersen yang berbunga, tapi si benalu. Bunga merahnya mengundang penikmat nektar.

Saya coba mendekat. Mendekat secara perlahan. Mengamati burung tak leluasa bergerak apalagi coba mengejarnya. Hampir semua burung sensitif. Sangat sensitif dengan gerakan. Mengetahui kehadiran manusia saja dia sudah panik. Atau tepatnya tidak tenang.

Karenanya seorang pengamat harus ekstra kalem. Beberapa menit saya mengikutinya. Tapi belum dapat momen tepat. Momen pas memotretnya.

Selalu ada saja yang menghalangi pandangan. Entah ranting atau dedaunan kersen. Apalagi tingkahnya yang tak bisa diam. Selalu berpindah dari bunga satu ke bunga lain.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2