Penelitian Terbaru Mengungkap, Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta

Klikhijau.com - Transportasi darat yang keluar-masuk di Ibu Kota Jakarta selama ini diyakini sebagai sumber utama emisi yang memicu pencemaran udara. Namun sebuah penelitian baru menemukan bahwa su...

Penelitian Terbaru Mengungkap, Gas Beracun Kian Kepung Ruang Udara Jakarta
Bacakan Artikel

Dalam laporannya, CREA menjelaskan bahwa faktor meteorologi seperti lintasan angin memengaruhi penyebaran pencemar seperti NO, SO2 dan PM2.5.

“Pada bulan-bulan kering Mei hingga Oktober, ketika tingkat pencemaran keseluruhan di kota ini paling tinggi, sumber-sumber dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara dan pabrik industri di sebelah timur Jakarta (dari Bekasi, Karawang, Purwakarta hingga Bandung) akan memberikan dampak yang lebih besar pada kualitas udara,” ungkap Analis CREA, Isabella Suarez.

Kepungan polusi industri

Sedangkan pada bulan-bulan basah (Desember hingga Maret), sumber-sumber di wilayah bagian barat - khususnya pembangkit listrik Suralaya di Banten - menjadi penyumbang pencemaran yang lebih besar.

CREA mencatat, ada 136 fasilitas industri terdaftar (termasuk pembangkit listrik) yang bergerak di sektor-sektor dengan emisi tinggi di Jakarta dan berada dalam radius 100 km dari batas administratif Ibu Kota.

Fasilitas industri tersebut sebanyak 16 unit berlokasi di DKI Jakarta; 62 di Jawa Barat, 56 di Banten, satu di Jawa Tengah dan terakhir di Sumatera Selatan (lebih rinci di dalam report).

“Lebih dari itu, melalui pantauan satelit, peneliti melihat wilayah padat industri tersebut berada pada lokasi yang sama dengan titik konsentrasi NOx dan SO2 di Jawa,” imbuh Isabella.

Dari inventarisasi emisi untuk Banten, Jawa Barat dan Jakarta didapati bahwa Banten dan Jawa Barat memiliki emisi PM2.5, SO2 dan NOx yang jauh lebih tinggi (dua kali lipat atau bahkan empat kali lipat dibanding Jakarta). Emisi berbahaya itu sebagian besar disebabkan oleh industri dan pembangkit listrik.

Dari kerumunan gas beracun yang memenuhi ruang udara Jakarta tersebut, CREA mengestimasikan bahwa pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara  (PLTU Batu bara) yang berada dalam radius 100 km dari Jakarta bertanggung jawab atas sekitar 2.500 kematian dini di wilayah Jabodetabek.

Pencemaran lintas batas juga bertanggung jawab atas dampak buruk kesehatan lainnya yang terkait dengan sistem kekebalan, pernapasan, dan kardiovaskular.

Biaya tahunan akibat pencemaran lintas batas dari PLTU Batu bara bahkan diperkirakan mencapai Rp 5,1 triliun per tahun di Jabodetabek, atau Rp 180.000 per orang per tahun.

Penemuan terbaru CREA ini memperkuat dan menegaskan temuan-temuan ilmiah sebelumnya yang menyatakan bahwa beban polusi kota Jakarta sudah mencapai tingkat kritis dan semakin meningkat seiring dengan rencana pengembangan pembangkit listrik ke depannya (Jawa 9 & 10).

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2