Paperless Culture Sebagai Upaya Merawat Lingkungan Berkelanjutan

Klikhijau.com - Apakah Anda bisa beraktivitas di kantor tanpa kertas? Rasanya sulit! Tapi, kita perlu membangun suatu budaya kerja hemat kertas bukan? Faktanya, kertas merupakan benda yang tidak bi...

Paperless Culture Sebagai Upaya Merawat Lingkungan Berkelanjutan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Apakah Anda bisa beraktivitas di kantor tanpa kertas? Rasanya sulit! Tapi, kita perlu membangun suatu budaya kerja hemat kertas bukan?

Faktanya, kertas merupakan benda yang tidak bisa lepas dari hidup kita. Kertas juga memudahkan banyak pekerjaan sehari-hari. Mulai dari tisu, struk belanja, buku catatan, pembungkus makanan, dan sebagainya menggunakan kertas.

Maka dari itu, tak mengherankan jika penggunaan kertas begitu tinggi. Pun, industri kertas tergolong industri yang paling maju di dunia.
Menurut data FAO sejak 2006 hingga 2016, rata-rata konsumsi kertas cetak dunia turun atau negatif 4,6%, sedangkan konsumsi kertas untuk kebutuhan tulis-menulis secara rata-rata turun atau negatif 1,3%.

Sementara itu, konsumsi tisu dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir memperlihatkan kenaikan rata-rata sebesar 2,8% dan konsumsi kertas kemasan tumbuh rata-rata sebesar 2,3%.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton per tahun dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Konsumsi kertas di Indonesia per kapita masih sangat jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga sangat potensial untuk berkembang.

Indonesia sendiri adalah negara peringkat enam produsen kertas di dunia, dengan produksi kertas mencapai total 14 juta ton per tahun.

Indonesia berpeluang besar untuk meningkatkan kapasitas produksi karena pemerintah mengalokasikan sepuluh juta hektare lahan untuk hutan tanaman industri. Di antara jumlah tersebut, 3–4 juta hektare digunakan sebagai bahan baku bubur kertas.

Meskipun zaman sudah serba digital, faktanya tidak menjadi penghambat perkembangan industry kertas. Di Asia, hampir 60%-70% diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan, termasuk konsumsi tisu yang cukup tinggi.

Meskipun kertas terbukti banyak memudahkan manusia selama ratusan tahun, namun kertas berdampak destruktif jangka panjang bagi lingkungan. Alasan mendasarnya adalah karena kertas diproduksi dari pohon-pohon yang ditebang dalam skala besar.

Permintaan konsumsi kertas justru meningkat seiring perubahan gaya hidup dan meningkatnya kebutuhan benda-benda kertas sekali pakai dan tisu yang semakin banyak.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2