Pandemi Ubah Kawasan Wisata Mangrove Luppung jadi Lumpuh

Klikhijau.com - Gerbang masuk ke Kawasan Wisata Mangrove Luppung berdiri kokoh. Terbuat dari beton. Kawasan wisata ini berada di Desa Manyampa, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba. Gerbang mas...

Pandemi Ubah Kawasan Wisata Mangrove Luppung jadi Lumpuh
Bacakan Artikel

Sulfiadi adalah seorang pemuda yang saat ini menjabat sebagai ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Manyampa. Ia dilantik bersama 48 orang Pokdarwis bulan Juni 2021 lalu.

Karena pandemi

Hanya saja, perjalanan selalu punya aral melintang. Seperti halnya perjalanan manis destinasi ini. Denyutnya sebagai destinasi wisata baru mengalami bencana dahsyat dengan kedatangan Virus Corona atau Covid-19 ke Indonesia di bulan April 2020 lalu.

Kepanikan dan ketakutan masyarakat akan bahaya virus tersebut membuat denyut destinasi ini melemah dan lumpuh. Harus diakui ketika awal-awal corona masuk ke Indonesia, teror ketakutan sangat terasa. Orang-orang lebih memilih tinggal di rumah daripada keluar. Apalagi mengunjugi tempat wisata.

“Pandemi berpengaruh besar, jumlah pengunjung turun drastis,” jelas Abbas Madda, Kepala Desa Manyampa, Bulukumba.

Turunnya jumlah pengunjung menjadikan Kawasan Wisata Mangrove Luppung yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mutiara Desa Manyampa kehilangan pendapatan. Karena keberlangsungan napas pariwisata terletak pada pengunjungnya.

“Biasanya hanya empat orang perhari,” tambah Herianto, Sabtu 2 Oktober 2021 lalu.

[irp]

Baik Abbas Madda, Herianto maupun Sulfiadi memang bersepakat bahwa pandemi telah menjadi biang kerok yang melumpuhkan Kawasan Wisata Mangrove Luppung yang memiliki luas lebih 13 hektare itu.

Hal serupa diakui pula oleh Tahang yang berprofesi sebagai akademisi di Universitas Fajar, Makassar. Tahang banyak bersentuhan dengan Kawasan Wisata Mangrove Luppung, boleh dibilang melalui dirinya pula kawasan wisata ini menemui wujudnya.

“Pernah tutup beberapa kali selama pandemi,” katanya.

Tahang mengungkapkan pula, jika ingin wisata berkembang dan memiliki daya tarik, maka dalam tiga bulan harus ada perubahan di dalam kawasan wisata. Sayangnya hal itu tak berlaku di Luppung

Padahal mangrove Luppung telah lama ada, sejak tahun 1990-an, namun baru dikembangkan pada tahun 2015 kemudian diresmikan pada tahun 2019.

“Harus ada event setiap malam Minggu dengan jualan tradisional, semisal musik,” saran Tahang.

Tidak hanya karena pandemi

Pandemi memang melumpuhkan banyak destinasi wisata. Namun, di Kawasan Wisata Mangrove Luppung bukan hanya pandemi yang jadi pemicu berkurangnya pengunjung, namun juga karena faktor lain.

“Parkir sangat mencekik, fasilitas, tempat makan dan minum juga harus ada, belum pula ada akses masyarakat menjual di dalam kawasan hutan mangrove,” ujar Tahang

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: