Pagari Laut Wakatobi, Bank Ikan Ini Dapat Penghargan di New York

Klikhijau.com – Di luar sedang hujan. Segelas kopi menemani saya mengusir gigil agar bisa menuntaskan tulisan tentang Bank Ikan di Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Teng...

Pagari Laut Wakatobi, Bank Ikan Ini Dapat Penghargan di New York
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com – Di luar sedang hujan. Segelas kopi menemani saya mengusir gigil agar bisa menuntaskan tulisan tentang Bank Ikan di Desa Kulati, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Jika dulu, nelayan di Desa Kulati menangkap ikan dengan melakukan pengeboman. Sekarang ini telah beralih ke sistem yang lebih ramah lingkungan, yang tak lagi merusak ekosistem laut.

Mereka menyadari bahwa laut dan Indonesia dua hal yang tak bisa dipisahkan. Pun mereka hidup dari hasil laut, maka harus dijaga agar tetap memberikan kehidupan.

Agar laut tetap lestari, salah seorang anggota Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) bernama La Asiru (81) beriniastif membuat sistem zonasi untuk mengembalikan kekayaan laut Wakatobi.

La Asiru, yang biasa dipanggi Bapak Tua resah melihat cara nelayan menangkap ikan dengan mudah, tapi merusak ekosistem laut. Ia tak ingin ikut dalam perburuan ikan yang dengan cara merusak.

Yang paling miris, pada tahun 1999 hingga 2006, Desa Kulati mengalami krisis ketersediaan ikan. Itu disebabkan terumbu karang yang menjadi rumah bagi makhluk laut, terutama ikan hancur dan rusak.

Sistem zonasi

Sistem zonasi yang diinisiasi oleh Bapak Tua, yakni melarang nelayan menangkap ikan di beberapa wilayah yang telah ditentukan dalam satu musim. Tujuannya sederhana saja, untuk menjaga kelestarian dan potensi ikan di Tomia, laut Wakatobi kembali berlimpah.

Langkah yang dilakukan Bapak Tua tentu saja awalnya tak mendapat respons yang baik. Banyak nelayan merasa kehilangan mata pencaharian dan merasa terbatas wilayahnya untuk menangkap ikan, yang artinya dapur bisa saja gagal mengepulkan asap.

Meski mendapat respons kurang baik, Bapak Tua tetap pada pendiriannya, ia tetap melakukan zonasi, "Zonasi itu belum pernah membunuh orang, zonasi itu bukan membatasi, tapi dijadikan pasokan pangan di musim (angin) timur," ungkapnya.

Hanya saja, sistem zonasi dianggap kurang memadai, maka Bapak Tua dan masyarakat melakukan musyawarah, mereka lalu sepakat sistem zonasi berubah nama menjadi Bank Ikan. Penjelasan tentang sistem zonasi diakui Bapak Tua tidak mempan.

Bank Ikan adalah istilah yang dipakai menyebutkan kawasan atau titik wilayah penangkapan ikan yang dilindungi areanya dan dilarang menangkap ikan di kawasan itu sampai musim berganti.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2