Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Pada Nama Kecilmu

Pada Nama Kecilmu   mulailah aku kupasi pisang. menuangnya ke dalam mangkok berbentuk lesung pipimu. ada terigu telah basah air mata. licin menepikan. di kompor gas, yang buatmu lupa moy...

Oleh Irhyl R Makkatutu 17 May 2020 08:03 2 menit baca

Pada Nama Kecilmu

  mulailah aku kupasi pisang. menuangnya ke dalam mangkok berbentuk lesung pipimu. ada terigu telah basah air mata. licin menepikan. di kompor gas, yang buatmu lupa moyang di sebatang kayu bakar. minyak telah didih. suaranya jenguki rindu. terigu paluti pisang, lalu berenang di minyak didih. kubayangkan, serupa itu sambutan darah kita; mendidih saat kecup pertama di tujuh belas Agustus di pinggir lapangan bola kau menamainya kenangan dan aku menyebutnya kematian kantuk tidak lagi ingatkan aku pada kecupan itu aku juga lupa nama kecilmu pisang itu telah matang, berubah jadi pisang goreng atau tepatnya, kau menamainya kambing-kambing di ruang tamu, aku tidak lagi sendiri kau ada pada tiap incinya aku coba ingat nama kecilmu ingin kuucapkan sebelum kata amin menutup doaku. hanya saja sepenuh-penuhnya aku lupa [irp] =========

Yang Tiba Sebagai Kamu

  botol air mineral di belakang pintu itu masih menyimpan bekas bibirmu seorang perempuan tua mengembalikannya kemarin sore. saat aku santai di teras. "jangan buang kenangannya," pesannya. singkat menyikat perempuan tua itu menatapku. aku membayangkan itu kamu, datang lima puluh tahun kemudian ......sebagai jawaban dari semua doa.... [irp]
===========

Akar Cinta

  suara ketukan tiba di pelukan. berdiam diri sejenak lalu masuk ke aliran darah. pelan. pelan sekali. darah itu mengalir ke hati. membawa bibit. di tanamnya di sana. dirawat tanpa ditawar. kelak ia dinamai cinta. cinta tak pernah tergesa datang tak pernah gegas pergi. perlahan. perlahan. sangat perlahan. pohon mana tak punya akar akan tumbang atau meranggas. ranting gugur jadi pengantin gagal. daun layu dirayu maut. cinta mana tak punya akar percaya. cemburu mana tak dipenuhi curiga dengan coretan risau. memukul-mukul jiwa. menggali gagal. ketukan itu tiba serupa kekasih yang baru bangun di subuh hari. sisa kantuknya menggemaskan. aku dekap perlahan. pelan-pelan. kubiarkan semua datang jika itu tentangmu. biar penuh danau cintaku. mengakar pohon rinduku [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #puisi dan ekologis #menjaga alam dengan puisi #kampanye lingkungan dengan puisi