Oleh-Oleh dari Bincang Literasi Lingkungan di Sudut Kota Kelahiran B.J. Habibie

Klikhijau.com - Malam yang cerah di suatu sudut kota di Parepare, Sulawesi Selatan. Kota kelahiran presiden ke-3 RI: B.J. Habibie. Lebih tepatnya di salah satu lorong kota yang ramai. Di Sabtu mala...

Oleh-Oleh dari Bincang Literasi Lingkungan di Sudut Kota Kelahiran B.J. Habibie
Bacakan Artikel

Ia juga memamerkan beberapa hasil jepretan kupu-kupunya. Mengenalkan betapa kaya kawanan kupu-kupu di Bantimurung dan sekitarnya. "Saat ini, setidaknya 150 spesies kupu-kupu telah teridentifikasi di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung," tambahnya.

Di akhir presentasinya, Taufiq berpesan agar kawula muda mencintai literasi. Terus mengasah ketajaman berpikir dengan banyak membaca. Tak cukup sampai di sana, ia juga menyarankan untuk belajar menulis. Menulis kisah yang dekat kegiatan keseharian.

Ada banyak genre yang bisa digeluti. Fiksi atau non fiksi. Bergantung dari minat masing-masing.

Moderator kemudian memberi kesempatan peserta mengajukan pertanyaan dan pendapat. Memulai sesi diskusi.

Beberapa peserta diskusi tertarik perihal kupu-kupu. Penasaran dengan perannya di alam, penyebab kelimpahan kupu-kupu di Bantimurung hingga upaya konservasi yang telah dilakukan selama ini di taman nasional.


Taufiq kemudian membeberkan jawabannya. Maklum saat menyelesaikan pendidikan magisternya di Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, ia meneliti kupu-kupu di instansi kerjanya. Karena itu peserta cukup puas dengan penjelasannya.

Selepas itu, diskusi tambah memanas. Sekitar pukul 22:00 Wita diskusi dua arah masih terus berlangsung. Sesekali tanya-jawab ini keluar dari tema.

Membahas tentang wisata, dunia arkeologi hingga peraturan yang membolehkan organisasi masyarakat mengelola tambang.

"Bagaimana pendapat Saudara perihal tambang yang membolehkan Ormas terjun di dalamnya?" Begitu Ibrah La Iman, penulis buku "Kappala Luttu", mulai angkat suara.

Menurut Taufiq, sah-sah saja jika hal tersebut terjadi. Mengingat, kini aturan telah mengizinkannya. Apalagi saat ini tambang di negara kita lebih banyak dikelola asing. "Ini peluang bagi anak bangsa. Pertanyaan sekarang, apakah teknologi dan sumber daya manusia dari Ormas kita sudah mampu mengelolanya?" Sang pemantik menimpali.

Ilham Mustamin, Direktur Sampan Institute, kemudian mulai terpancing. "Saya sependapat dengan Saudara pemateri. Apakah urusan utama ormas sekarang sudah 'clear'. Sudah selesai mengurusi umatnya. Saya masih kurang yakin dengan kemampuan mereka."

Berbeda dengan Ibrah, ia mempertahankan pendapatnya. Menurutnya, ormas yang hendak terjun di dunia pengelolaan sumber daya alam ini tentunya akan menyiapkan diri. Termasuk menyiapkan teknologi dan SDM-nya.

"Kita doakan saja dan terus pantau perkembangannya. Mudah-mudahan tidak menjadi pemicu masalah baru di internal organisasi keagamaan ini," kilah Taufiq.

Tak terasa malam semakin larut. Hingga akhirnya pada pukul 23:00 Wita, moderator kemudian menutup sesi diskusi. Namun sebelumnya menyilahkan pemateri untuk memberi statemen terakhirnya.

"Pesan saya cuma satu untuk kawula muda. Hendak setiap individu memiliki satu kelebihan yang terus diasah, yang pada akhirnya menjadi ahli. Dengan keahlian yang dimiliki menjadi nilai tambah baginya. Dengan begitu ia akan mudah mengungguli kawan sejawatnya jika terjadi persaingan untuk merebut posisi tertentu," tutup sang pemantik.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2