Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta

Klikhijau.com - Penyu atau nama ilmiahnya Chelonioidea, merupakan organisme ikonik yang hidup di perairan laut. Penyu dikenal sebagai reptil laut seperti kura-kura yang sanggup menjelajah dunia dengan...

Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta
Bacakan Artikel

Di Komunitas Sahabat Penyu, Yusri mengadakan banyak kegiatan berupa kampanye pentingnya pelestarian penyu. Yusrie tak pernah lelah menyampaikan pesan cinta betapa pentingnya melindungi penyu sebab mereka juga makhluk Tuhan.

“Saya melihat penyu ini adalah makhluk ciptaan Tuhan yang juga butuh perlindungan dari kita. Sesungguhnya penyu ini juga menangis ketika telur-telur mereka dicuri dan hingga saatnya tiba jadi tukik namun induknya tidak melihat anaknya tersebut turun ke laut,”pesan Yusrie menohok.

Bagi seorang Yusrie, antara penyu dan manusia hanyalah beda tempat hidup. Karenanya, penyu juga berhak untuk hidup dan diselamatkan.

“Penyu bagi saya juga banyak membatu kelangsungan hidup manusia dengan cara menjaga isi ruang laut sehingga kita masih bisa makan ikan-ikan segar dari laut,” ucapnya.

Aksi mengadopsi penyu

Dari analogi pentingnya saling jaga sesama makhluk Tuhan dan betapa setiap makhluk berperan penting pada ekosistem, kemudian menginspirasi Yusrie menginisiasi aksi adopsi penyu. Aksi ini dibuat sebagai upaya membuka mata hati semua orang agar sama-sama menjaga kelestarian penyu.

Menurut Yusri, adopsi penyu artinya setiap warga atau pengunjung yang ingin melepas tukik terlebih dahulu diwajibkan untuk mengadopsi satu sarang/lubang telur penyu hingga menetas.

“Lalu, pada saat dia sudah jadi tukik, si pengadopsi inilah yang datang untuk melepas ke laut, dimana sebelumnya kita sudah mengirimkan jadwal menetasnya telur penyu jadi tukik. Sehingga tidak ada kesempatan tukik masuk di kolam pembesaran,” kata Yusri.

Selain adopsi penyu yang terbuka untuk umum, Yusri juga rajin sosialisasi ke mahasiswa, pelajar bahkan anak usia dini. Aksi ini intens dilakukan agar anak-anak muda dan remaja dapat mencintai penyu sejak dini. Komunitas Sahabat Penyu menamakan aksinya dengan kegiatan bertajuk “bertemu penyu”.

“Awalnya respons masyarakat terhadap aksi ini kurang baik, bahkan apa yang saya lakukan itu dianggap hal yang sia-sia. Tapi justru saya menganggap itu adalah cambuk bagi saya agar semakin giat melestarikan penyu,” cerita Yusri.

Pada tekad yang keras dan komitmen kuat, tak ada rintangan berarti. Yusri terus bergerak menggelar aksinya. Menariknya, setiap aksi yang dilakukan Yusri dan komunitasnya, sambutan dan apresiasi media sangatlah positif.

“Jadi, teman-teman media banyak membantu saya juga. Mereka sangat membantu sehingga aksi yang saya lakukan dapat menginspirasi banyak orang,” tuturnya.

Perlahan namun pasti, seiring waktu berjalan, semakin banyak orang yang ikut membatu Yusri dan komunitasnya dalam menjaga dan melestarikan penyu. Terlebih, ia senantiasa mengajak banyak orang untuk terlibat di setiap kegiatannya.

Walhasil, masyarakat di pesisir Mampie kini semakin banyak yang ikut terlibat. Apa yang dilakukan Yusri dan komunitasnya ternyata berdampak pula pada kemajuan wisata pantai di Mampie. Dengan sendirinya berdampak pula pada kesejahteraan masyarakat pesisir—mampie pun semakin disesaki pengunjung. Orang-orang berdatangan demi melihat aktivitas Yusri dan komuntasnya, sembari belajar tentang penyu. Pantai Mampie bahkan semakin populer sebagai zona konservasi penyu di Tanah Mandar.

Tantangan

Meski tergolong sukses sejauh ini, Yusri dan komunitasnya tidak pernah berhenti berjuang. Mereka juga menyadari bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan.

“Tantangan terberat saat ini karena masih adanya kepercayaan di masyarakat luas (di luar mampie) bahwa mengkonsumsi telur penyu itu membawa banyak manfaat, sehingga permintaan telur penyu tetap ada. Padahal, sesungguhnya tidaklah demikian,” jelas Yusri.

Hati Yusri seolah tersayat-sayat ketika mendengar kabar perdagangan bebas telur penyu di pasaran. Kejadian semacam ini bukan sekali dua kali ia dapati, beberapa diantaranya berhasil diringkus petugas.

“Namun kami bersyukur karena saat ini yang jual di pasar sudah berkurang bahkan sudah sulit ditemukan,” ucapnya.

Tantangan lainnya adalah masih kurangnya sarana dan fasilitas pendukung dalam aktivitas konservasi penyu. Yusri berharap ke depan, ada kolaborasi dengan multi-pihak untuk sarana pendukung di Mampie.

Selain itu, masalah pendanaan juga jadi tantangan tersendiri. Selama berjuang di bidang ini, Yusri benar-benar berjuang mandiri. Ia hanya mengandalkan kunjungan wisata ke rumah penyu dan adopsi telur penyu.

Yusri juga menyisakan sebagian keuntungannya sebagai pedagang keripiki sebagai modal dalam aksinya.

“Karena saya dan istri saya juga jual kerupuk, jadi 20 persen hasil penjualan kerupuk kami, diperuntukkan untuk kegiatan pelestarian lingkungan termasuk penyu,” tuturnya.

Tantangan yang dihadapi Yusri tidaklah mudah, namun ia terus berjuang sekuat tenaga.

“Jadi yang membuat saya betah melestarikan penyu itu karena setiap proses yang ada saya nikmati. Sehingga kegagalan dalam sebuah proses tersebut hanya menjadi bahan senyuman agar tetap semangat untuk terus bergerak,” kata Yusrie tersenyum.

Paling penting kata Yusri adalah gerakan yang ia lakukan saat ini telah menjelma sebagai hobi.

“Karena ketika sudah menjadi hobi maka kita tidak berpikir ada berapa biaya yang kita keluarkan, berapa waktu yang kita korbankan. Karena itu sudah menjadi hobi kita,” ucapnya.

Betapa pun jua, Yusri sudah telanjur mencintai hobinya. Baginya, nyawapun siap ia pertaruhkan untuk perjuangannya ini. Ia mencontohkan, bagaimana anak-anak muda yang suka balap liar di lingkungan dan tentu mengancam nyawanya. Namun, karena hobi, rasa takutnya luruh oleh semangat yang kuat.

Impiannya sederhana, Yusri berharap tiga jenis penyu (penyu lekang, penyu hijau dan penyu sisik) yang saat ini mendiami pantai Mampie bisa terjaga.

“Saya ingin bagaimana penyu mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah. Bahkan sya sangat berharap suatu saat nanti Mampie ini jadi tempat belajar penyu. Sehingga saya sangat berharap suatu saat ada tugu penyu dari tiap jenis penyu sebagai bahan ajar secara tidak langsung. Dan saya juga berharap ada Peraturan Bupati (Perbup) mengenai pelestarian penyu,” harapnya.

Sebagai generasi muda, jiwa dan baktinya telah ia wakafkan untuk lingkungan. Semangat menggelorah ini tumbuh kuat di hatinya karena ia sadar bahwa manusia sangatlah bergantung pada alam.

Muhammad Yusri akhirnya diberi penghargaan Kalpataru oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) atas jasanya sebagai perintis lingkungan. Suatu pencapaian dan apresiasi yang layak ia dapatkan sebagai pejuang berhati tulus.

“Jadi, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan lingkungan. Serta yakinlah bahwa tidak ada usaha yang sia sia. Karena ALLAH SWT akan memberi ganjaran pahala di setiap perbuatan baik yang kita lakukan,” pungkasnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2