Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta

Klikhijau.com - Penyu atau nama ilmiahnya Chelonioidea, merupakan organisme ikonik yang hidup di perairan laut. Penyu dikenal sebagai reptil laut seperti kura-kura yang sanggup menjelajah dunia dengan...

Muhammad Yusri, Menyelamatkan Penyu di Tanah Mandar dengan Cinta
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Penyu atau nama ilmiahnya Chelonioidea, merupakan organisme ikonik yang hidup di perairan laut. Penyu dikenal sebagai reptil laut seperti kura-kura yang sanggup menjelajah dunia dengan empat siripnya. Menariknya, ada 7 spesies penyu di dunia dan 6 spesies di antaranya berkembang biak di Indonesia. Hal itu karena karena perairan Indonesia menjadi rute perpindahan (migrasi) penyu laut di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia.

Meski tersebar di hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia, penyu tergolong satwa yang eksistensinya terancam diantaranya karena perdangangan bebas (illegal trade). Karenanya, pemerintah Indonesia memasukkan penyu dalam kategori satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.  Dengan demikian, segala bentuk perdangan penyu dilarang keras dan pada siapa pun yang terbukti melakukannya akan diberi sanksi berat.

Maraknya illegal trade, penangkapan illegal dan konsumsi telur penyu inilah yang menginspirasi seorang pemuda asal Polewali Mandar (Polman) Sulawesi Barat bernama Muhammad Yusri (32) bergerak dalam konservasi dan pelestarian penyu.

Yusri Mampie sapaan akrabnya yang tinggal di pesisir pantai Mampie Desa Galeso Kecamatan Wonomulyo Polman menginisiasi aksinya sejak tahun 2003. Hatinya tergerak dengan fakta yang terjadi pada penyu-penyu di desanya yang sulit berkembang.

“Saya melakukan ini murni karena kepedulian saya terhadap pelestarian lingkungan dan khususnya penyu. Karena dari tahun ke tahun hampir semua penyu yang mendarat untuk bertelur tidak ada yg bisa selamat jadi tukik. Semuanya diambil oleh orang lalu dikonsumsi bahkan dijual. Atas keprihatinan itulah saya coba untuk beranikan diri melestarikannya,” cerita Yusri saat wawancara beberapa bulan lalu.

Misinya amat tulus, namun jalan terjal mesti ditempuhnya. “Saya sadar saat itu bahwa rintangan dan halangan pasti banyak yang harus saya lalui,” tuturnya.

Rintangan utamanya tentu saja adalah cemoohan dari banyak orang yang mungkin sekian lama merusak perkembangan penyu. Yusri menyadari betul bahwa tak banyak orang yang paham bahwa keberadaan penyu amatlah penting bagi ekosistem perairan. Terlebih, keberadaan penyu termasuk dilindungi karena tergolong satwa terancam punah.

Sebagaimana pantai yang selalu ramai dikunjungi, memang tak mudah untuk mengawasi perilaku pengunjung yang kerap barbar pada penyu dan telur-telurnya. Di sisi lain, pantai adalah tempat terbaik untuk penyu-penyu mendarat dan mampir bertelur.

Situasi inilah yang membuat Yusri sadar betapa pentingnya edukasi pada masyarakat agar mencintai penyu. Lebih satu dekade Yusri pun berjuang mewujudkan impiannya secara mandiri. Seribu satu tantangan ia bisa lewati berkat cinta dan ketulusan dalam dirinya.

Pada tahun 2015, kerja kerasnya pun mulai dirasakan masyarakat. Di tahun ini pula Yusri menginisiasi sebuah komunitas, namanya Sahabat Penyu. Komunitas yang perlahan melibatkan banyak orang khususnya anak-anak muda di Pantai Mampie.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2