Mewaspadai Dampak Sinar Biru yang Dapat Menyebabkan Penuaan Dini

Klikhijau.com – Sinar biru mulai tak terpisah dari kehidupan manusia modern. Apalagi setelah gawai (gadget) ditemukan dan jadi kebutuhan—manusia menjadi tak terpisah darinya. Penggunaan gawai dari...

Mewaspadai Dampak Sinar Biru yang Dapat Menyebabkan Penuaan Dini
Bacakan Artikel

Studi baru

Dilansir dari Earth.com, ada sebuah studi baru yang mengungkapkan jika sinar biru tak hanya berbahaya bagi mata. Tetapi juga dapat merugikan berbagai sel dalam tubuh manusia.

Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Aging melaporkan efek paparan sinar biru pada lalat buah, Drosophila melanogaster dan juga menyelidiki apakah cahaya biru memiliki dampak yang lebih besar pada individu seiring bertambahnya usia.

Para peneliti juga melakukan analisis otak lalat dan jalur pernapasan untuk memahami cara lalat dipengaruhi oleh paparan cahaya biru.

Hal pertama yang dilakukan peneliti adalah mengukur tingkat kelangsungan hidup lalat yang dibesarkan dan disimpan dalam kegelapan konstan. Kemudian dipindahkan ke kondisi sinar biru konstan pada usia yang berbeda sepanjang umur.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tua lalat ketika terkena cahaya biru. Semakin rendah tingkat kelangsungan hidup mereka, jika dibandingkan dengan lalat pada usia yang sama yang tetap dalam kegelapan konstan.

Selanjutnya, ketika lalat terkena sesi BL sementara (10 hari) pada usia muda atau paruh baya. Kelangsungan hidup mereka selanjutnya setelah kembali ke kegelapan konstan berkurang secara signifikan dan lalat paruh baya terpengaruh lebih parah daripada lalat muda.

Ini menunjukkan bahwa efek fototoksik cahaya biru tetap ada, bahkan setelah stresor ini dihilangkan, dan bahwa tingkat keparahan efeknya tergantung pada usia saat paparan BL terjadi.

Dr. Jadwiga Giebultowicz, seorang profesor di Departemen Biologi Integratif di Oregon State University dan penulis senior studi tersebut memaparkan, paparan cahaya biru yang berlebihan dari perangkat sehari-hari,  mungkin memiliki efek merugikan pada berbagai sel di tubuh kita, dari sel kulit dan lemak, hingga neuron sensorik.

“Kami adalah yang pertama menunjukkan bahwa tingkat metabolit spesifik, bahan kimia yang penting bagi sel untuk berfungsi dengan benar diubah pada lalat buah yang terpapar cahaya biru,” paparnya.

Kerusakan otak lebih buruk

Sepanjang percobaan itu, para peneliti menggunakan lalat buah yang dimodifikasi secara genetik untuk tidak menghasilkan mata majemuk.

Ini memungkinkan mereka untuk membuktikan bahwa efek pada umur lalat tidak tergantung pada dampak apa pun yang mungkin ditimbulkan BL pada sel retina mereka.

Untuk mendapatkan jawaban kenapa lalat buah mati  sebelum waktunya, para peneliti menyelidiki otak dan fungsi pernapasan mereka yang lebih tua.

Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa otak lalat yang terpapar BL sebagai individu yang lebih tua dicirikan oleh banyak bercak kecil di mana jaringan telah mati. Lalat kontrol yang disimpan dalam kegelapan tidak menunjukkan tingkat degenerasi saraf yang mendekati ini.

Selanjutnya, kerusakan otak lebih buruk pada lalat jika mereka terkena BL sebagai orang dewasa yang lebih tua daripada jika paparan terjadi selama masa muda lalat. Temuan ini menunjukkan bahwa BL adalah stresor lingkungan yang berdampak lebih parah pada organisme seiring bertambahnya usia.

Untuk menyelidiki penyebab sensitivitas cahaya terkait usia, para peneliti berfokus pada fungsi mitokondria. Mitokondria adalah struktur kecil di dalam sel di mana oksigen digunakan untuk menghasilkan energi dari substrat seperti glukosa.

Para ahli juga membandingkan kadar metabolit dalam mitokondria sel kepala pada lalat. Untuk memahami mengapa cahaya biru berenergi tinggi bertanggung jawab untuk mempercepat penuaan pada lalat buah, kami membandingkan tingkat metabolit pada lalat yang terpapar cahaya biru selama dua minggu dengan yang disimpan dalam kegelapan total.

Para peneliti menemukan perbedaan yang signifikan dalam tingkat berbagai metabolit; khususnya, mereka menemukan bahwa tingkat suksinat meningkat, tetapi tingkat glutamat diturunkan.

Manusia terpapar cukup lama

Giebultowicz mengungkapkan pula, suksinat sangat penting untuk memproduksi bahan bakar untuk fungsi dan pertumbuhan setiap sel. Tingkat suksinat yang tinggi setelah terpapar cahaya biru dapat dibandingkan dengan gas yang berada di pompa tetapi tidak masuk ke dalam mobil.

“Penemuan lain yang meresahkan adalah bahwa molekul yang bertanggung jawab untuk komunikasi antar neuron, seperti glutamat, berada pada tingkat yang lebih rendah setelah paparan cahaya biru.”

Perubahan yang dicatat oleh para peneliti menunjukkan bahwa paparan BL dikaitkan dengan kinerja sel yang kurang optimal dan ini mungkin menjadi penyebab kematian sel dan percepatan proses penuaan pada lalat.

Giebultowicz juga menuturkan bahwa LED telah menjadi penerangan utama di layar tampilan seperti TV, ponsel, desktop serta pencahayaan sekitar. Sehingga manusia modern  terpapar cahaya biru melalui pencahayaan LED cukup lama.  Bahan kimia pensinyalan dalam sel lalat dan manusia sama. Hal itu menunjukkan potensi negatifnya pada pada manusia.

“Kami menggunakan cahaya biru yang cukup kuat pada lalat . Manusia yang terpapar cahaya yang kurang intens, sehingga kerusakan sel mungkin kurang dramatis,” jelas Giebultowicz.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2